Pionir Ritel Toshifumi Suzuki Meninggal Dunia akibat Gagal Jantung
Mantan CEO Seven & i Holdings Co sekaligus pionir ritel yang membesarkan jaringan 7-Eleven, Toshifumi Suzuki, dilaporkan meninggal dunia akibat gagal jantung pada usia 93 tahun. Kabar duka mengenai wafatnya tokoh bisnis tersebut diumumkan secara resmi oleh raksasa ritel asal Jepang pada Senin (25/5), seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Pihak manajemen perusahaan mengonfirmasi bahwa Toshifumi Suzuki telah mengembuskan napas terakhirnya pada 18 Mei lalu. Pengumuman ini menandai berpulangnya sosok yang merevolusi cara belanja masyarakat Jepang lewat pembukaan gerai waralaba 7-Eleven pertama di negara tersebut pada tahun 1974.
"Kami ingin menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas segala kebaikan dan dukungan yang diberikan kepada beliau semasa hidupnya, dan dengan penuh rasa hormat mengabarkan kepergian beliau," tulis pihak perusahaan.
Sebelum kesuksesan besar ini diraih, Suzuki sempat menghadapi resistensi yang kuat dari berbagai kalangan internal maupun eksternal saat awal merintis ide bisnis toko kelontong modern tersebut.
“Ketika pertama kali memutuskan membawa 7-Eleven ke Jepang, semua orang mengatakan itu tidak akan berhasil dan menentang ide tersebut — para eksekutif, profesor universitas, konsultan, semuanya,” kata Suzuki dalam wawancara tahun 2013.
Penolakan masif dari para ahli dan rekan sejawatnya tidak menyurutkan keyakinan sang pelopor ritel untuk terus melangkah.
“Saya tahu mereka salah,” kata Suzuki.
Ekspansi bisnis Suzuki berlanjut dengan akuisisi perusahaan induk 7-Eleven di Amerika Serikat, Southland Corp, yang mengalami kebangkrutannya pada tahun 1990. Di bawah kendalinya, jaringan toko kelontong ini meluas hingga memiliki lebih dari 55.000 gerai di 16 negara sewaktu ia meletakkan jabatannya pada Mei 2016.
Grup bisnis ritel raksasa ini sekarang telah mengoperasikan lebih dari 85.000 gerai di seluruh dunia, dengan seperempat jumlahnya tersebar di wilayah Jepang. Suzuki juga tercatat mendirikan unit jasa keuangan Seven Bank Ltd pada tahun 2001 yang mengumpulkan pendapatan utama dari biaya transaksi ATM.
Meskipun telah memasuki usia senja dan melewati umur 80 tahun, dedikasi kerja sang pengusaha tetap tinggi dengan rutin memantau langsung perkembangan dagangan di gerai-gerai miliknya setiap akhir pekan.
“Saya sangat beruntung sebagai pebisnis, tetapi saya selalu merasa keberuntungan berpihak pada mereka yang melakukan segala hal untuk mencapai tujuan mereka,” tulis Suzuki dalam autobiografinya.
Melalui catatan hidup yang ditinggalkannya, Suzuki menegaskan pandangannya mengenai hakikat sebuah kesuksesan dalam dunia kerja.
“Keberuntungan tidak datang begitu saja kepada orang-orang tertentu,” tulis Suzuki.