Tongseng Battembat Cirebon Masuk Warisan Budaya Tak Benda Jawa Barat
Pemerintah Provinsi Jawa Barat menetapkan Tongseng Battembat sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) tahun 2026. Kuliner khas dari Desa Battembat, Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon ini dinilai memiliki akar sejarah yang kuat dalam kehidupan masyarakat setempat.
Kawasan Battembat dan Plered sejak lama tersohor sebagai pusat perdagangan serta penyembelihan sapi di wilayah Cirebon. Dilansir dari Detik Food, denyut ekonomi dari aktivitas jagal sapi inilah yang melahirkan hidangan legendaris tersebut.
Tokoh budaya Cirebon, Chaidir S. Susilaningrat, menjelaskan bahwa hidangan ini muncul dari kreativitas masyarakat dalam mengolah bagian-bagian sisa daging sapi yang tidak masuk kategori utama untuk dijual.
"Tongseng Battembat itu memang kuliner khas yang sudah lama dikenal masyarakat, terutama di daerah Battembat yang dulu masuk wilayah Cirebon Barat. Daerah itu sejak dulu menjadi pusat penyembelihan sapi, banyak jagal sapi di sana," ucap Chaidir saat berbincang dengan detikJabar, Minggu (7/6/2026).
"Dari situlah muncul kreativitas masyarakat dalam mengolah bagian-bagian sisa daging sapi menjadi masakan tongseng," sambungnya.
Bagian daging tertentu umumnya digunakan untuk bistik atau olahan premium lainnya. Sisa daging yang tidak terpakai kemudian diracik dengan bumbu rempah menjadi hidangan yang lezat sekaligus bernilai ekonomi.
Meskipun tongseng secara nasional lebih identik dengan wilayah Jawa Tengah seperti Boyolali dan Solo, Tongseng Battembat memiliki garis sejarah yang berbeda. Keberadaannya menjadi bagian dari akulturasi budaya yang membentuk identitas Cirebon sebagai kota pelabuhan.
"Kalau bicara sejarah gastronomi Indonesia, memang tongseng lebih dikenal sebagai makanan khas Jawa Tengah. Tapi faktanya Cirebon juga memiliki Tongseng Battembat yang sudah lama berkembang. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Cirebon juga memiliki tradisi kuliner tongseng yang khas," ujarnya.
Pengaruh budaya Arab masuk melalui jalur perdagangan di pesisir utara Jawa, membawa kebiasaan mengonsumsi daging. Tradisi tersebut kemudian berpadu dengan kekayaan bumbu rempah-rempah yang dimiliki oleh masyarakat lokal.
"Konon tongseng merupakan hasil akulturasi budaya Arab. Orang Arab memiliki tradisi mengonsumsi daging kambing, kemudian kebiasaan itu berkembang di masyarakat lokal. Yang membedakan adalah penggunaan rempah-rempah Nusantara yang sangat kaya. Jadi bahan dan tradisinya mendapat pengaruh luar, tetapi cita rasanya dibentuk oleh kekayaan bumbu lokal," tutur Chaidir.
Perkembangan Sejak Abad ke-18
Keberadaan Tongseng Battembat diperkirakan mulai berkembang pada abad ke-18 hingga abad ke-19. Periode tersebut bertepatan dengan fase kebangkitan ekonomi Cirebon pada masa kolonial Belanda.
Pemerintah kolonial Belanda kala itu menetapkan Cirebon sebagai salah satu kota penting di pesisir utara Jawa. Infrastruktur yang dibangun memicu pertumbuhan aktivitas perdagangan, sehingga masyarakat menciptakan berbagai produk kuliner baru dari dinamika ekonomi tersebut.
"Perkembangannya diperkirakan terjadi pada abad ke-18 hingga abad ke-19. Saat itu ekonomi Cirebon mengalami kemajuan cukup signifikan sebagai kota kolonial. Pada masa-masa itu muncul kreativitas masyarakat dalam mengolah sisa-sisa daging menjadi makanan yang bisa dinikmati masyarakat luas. Empal gentong dan tongseng termasuk di antaranya," kata Chaidir.
Siklus sejarah ini membuat Tongseng Battembat melekat erat dengan tradisi pengolahan daging di kawasan Tengah Tani dan Plered. Selain tongseng, daerah ini juga melahirkan kuliner berbasis daging lain seperti empal gentong dan empal asem.
"Iya, memang berawal dari kawasan jagal sapi. Tongseng tidak berdiri sendiri. Ada empal gentong, empal asem, dan berbagai kuliner lain yang juga lahir dari tradisi pengolahan daging di kawasan itu. Dulu orang bahkan lebih mengenalnya sebagai kawasan Plered," ujarnya.
Penetapan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Jawa Barat diharapkan menjadi langkah nyata untuk melestarikan sejarah panjang kuliner pesisir Cirebon. Pemerintah diharapkan serius mengembangkan warisan ini agar menjadi identitas yang dikenal luas oleh wisatawan.
"Penetapan warisan budaya ini bukan hal yang main-main. Pemerintah harus serius melestarikan dan mengembangkan warisan budaya ini supaya tetap hidup dan dikenal masyarakat. Apalagi Cirebon sekarang menjadi salah satu destinasi wisata. Kuliner seperti Tongseng Battembat harus menjadi bagian dari identitas yang diperkenalkan kepada wisatawan," pungkasnya.