Tiga Pria Tewas Lindungi Islamic Center of San Diego dari Penembakan

Share

Tiga pria tewas demi melindungi jamaah dan anak-anak di dalam Islamic Center of San Diego dari serangan dua remaja bersenjata dalam insiden yang diselidiki polisi sebagai kejahatan rasial pada Senin, 19 Mei 2026.

Petugas keamanan Amin Abdullah sempat berbalas tembakan dengan pelaku sambil menginstruksikan penguncian sekolah melalui radio, sementara Mansour Kaziha dan Nadir Awad mengalihkan perhatian pelaku menjauh dari gedung sebelum ketiganya gugur.

Pihak kepolisian melaporkan tindakan cepat para korban berhasil mencegah kedua penyerang masuk lebih dalam ke area institusi keagamaan tersebut.

Imam sekaligus Direktur Islamic Center, Taha Hassane, menyatakan penghormatan mendalam kepada ketiga anggota komunitasnya yang mengorbankan nyawa tersebut.

"We call them our brothers in the community, we call them our martyrs and our heroes," kata Taha Hassane, Imam dan Direktur Islamic Center.

Hassane menjelaskan bahwa Nadir Awad langsung bergegas menuju lokasi setelah mendengar suara tembakan dari kediamannya yang berada di sekitar tempat kejadian perkara.

"When he heard the shooting, he rushed to do something to protect, and he joined Mansour Kaziha. They died together," ujar Taha Hassane, Imam dan Direktur Islamic Center.

Kedua pria tersebut akhirnya tersudut dan ditembak mati oleh pelaku karena tidak sempat melarikan diri dari lokasi kejadian.

"They tried to do something to protect, but unfortunately they sacrificed their lives to protect the entire community inside the Islamic Center of San Diego," tutur Taha Hassane, Imam dan Direktur Islamic Center.

Kepala Kepolisian San Diego, Scott Wahl, menegaskan bahwa aksi berani ketiga korban telah meminimalkan jumlah korban jiwa yang lebih besar dalam peristiwa mencekam tersebut.

"All three of our victims did not die in vain," kata Scott Wahl, Kepala Kepolisian San Diego.

Wahl menambahkan bahwa kesigapan Amin Abdullah dalam baku tembak langsung mengulur waktu bagi sekitar 140 siswa dan guru di dalam kelas untuk menyadari situasi bahaya.

"Without distracting the attention, without delaying the actions of these two individuals, without question there would have been many more fatalities yesterday," ujar Scott Wahl, Kepala Kepolisian San Diego.

Aksi Abdullah dinilai sangat krusial dalam menghadang pergerakan kedua remaja bersenjata yang mencoba merangsek ke area utama masjid.

"His actions, without a doubt, delayed, distracted and ultimately deterred these two individuals from gaining access to the greater areas of the mosque," tutur Scott Wahl, Kepala Kepolisian San Diego.

Sebelum insiden tragis ini terjadi, media CNN melaporkan bahwa pihak Islamic Center of San Diego sebenarnya telah memperketat pengamanan menyusul adanya berbagai ancaman.

Salah seorang jamaah, Sam Hamideh, mengenang sosok Abdullah sebagai petugas keamanan berusia 51 tahun yang selalu menyambut hangat setiap keluarga yang datang.

"Every single time you crossed him, he always put a smile on your face," kata Sam Hamideh, jamaah masjid.

Hamideh menceritakan keramahan Abdullah yang tidak ragu memberikan makanan dan air kepada seorang tunawisma di sekitar area masjid.

"He always brought that energy of everything's good, you know, having that strong faith in God and always being kind," ujar Sam Hamideh, jamaah masjid.

Saat Hamideh memuji tindakan tersebut, Abdullah memberikan jawaban yang merefleksikan prinsip hidupnya untuk selalu menolong sesama.

"I said, 'Brother, wow. The way you treated him,'" tutur Sam Hamideh, jamaah masjid.

Abdullah menegaskan bahwa sudah menjadi kewajiban manusia untuk saling membantu ketika ada orang lain yang membutuhkan bantuan.

"Let me tell you something: There are people out there, all they need is help. And if you need help, don't you want help? So let's be people that help if we can," kata Amin Abdullah, petugas keamanan.

Beberapa minggu sebelum wafat, Abdullah sempat mengunggah sebuah pesan religius di akun Facebook pribadinya mengenai akhir hidup yang baik.

"May Allahu ta'ala (God almighty) grant us Husnal Khatimah (a righteous ending to life)," tulis Amin Abdullah, petugas keamanan.

Unggahan pada 5 Mei tersebut langsung dibanjiri komentar dari komunitas yang merasa doa sang petugas keamanan telah dikabulkan lewat aksi heroiknya.

"Brother Amin Abdullah got exactly what he desired," tulis seorang netizen dalam kolom komentar Facebook.

Hingga saat ini, pihak kepolisian setempat masih terus melakukan penyelidikan mendalam terkait motif utuh dari kedua pelaku remaja yang tewas bunuh diri setelah melancarkan aksi penembakan tersebut.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author