Thailand Ubah Strategi Pariwisata dan Fokus Targetkan Pengeluaran Wisatawan

Share

Pemerintah Thailand kini tidak lagi mengejar rekor jumlah kunjungan turis. Setelah puluhan tahun mengukur kesuksesan lewat pertumbuhan angka kedatangan, fokus kebijakan kini dialihkan demi memprioritaskan besarnya pengeluaran para pelancong.

Negara Asia Tenggara yang populer dengan objek pantai dan hiburan malam ini hanya mematok target sekitar 33 million wisatawan asing untuk tahun ini. Angka tersebut berada di bawah catatan tahun 2019 yang mencapai hampir 40 million orang.

Jika realisasi kedatangan lebih rendah dari angka 32.97 million kunjungan pada tahun lalu, Thailand akan mencatat penurunan tahunan selama dua tahun berturut-turut untuk pertama kalinya di luar periode pandemi sejak tahun 1995.

Dikutip dari Bloombergtechnoz, ketegangan geopolitik serta persaingan regional yang kian ketat menjadikan pergeseran fokus ke pelancong beranggaran besar sangat krusial, ketimbang mempertahankan pariwisata massal.

Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Gubernur Otoritas Pariwisata Thailand, Nithee Seeprae, dalam sebuah wawancara.

"Kami tidak terlalu khawatir dengan jumlah wisatawan karena kami ingin menghasilkan lebih banyak pendapatan dari setiap pengunjung," ujar Nithee. "Kami berfokus pada pasar yang berkualitas."

Otoritas Pariwisata Thailand membuktikan perubahan arah kebijakan ini lewat pelaksanaan agenda pemasaran teranyar di beberapa kota besar Inggris, termasuk Oxford dan Manchester. Lembaga ini menyasar segmen pelancong yang meminati layanan medis, pemulihan kebugaran, konser musik, festival budaya, olahraga golf, maraton, dan ajang olahraga lainnya.

Kelompok pengunjung pada segmen tersebut dinilai memiliki kecenderungan untuk menetap lebih lama sekaligus membelanjakan uang dalam jumlah yang lebih masif. Platform digital resmi milik lembaga itu pun sekarang gencar mengedepankan konsep kemewahan dan kesehatan.

Melalui video sambutan, para pelancong diajak untuk memulihkan diri serta bertransformasi menjadi versi diri yang lebih hangat dan bahagia. Saat ini, rata-rata pengeluaran turis mencapai kisaran US$1,500 per perjalanan, dan otoritas setempat menargetkan angka itu naik ke level US$2,400.

Meskipun demikian, total penerimaan dari sektor pariwisata internasional pada tahun ini diproyeksikan hanya tumbuh tipis menjadi 1.55 trillion baht (US$46.5 billion) dari capaian 1.54 trillion baht pada tahun 2025.

Sinyal paling ketara dari berakhirnya era pariwisata massal Thailand terlihat pada perombakan regulasi keimigrasian. Berbagai kelonggaran izin masuk yang sempat diterapkan pascapandemi demi mendongkrak sektor wisata kini resmi dicabut oleh pemerintah setempat.

Langkah pengetatan ini diambil setelah pemerintah mengaitkan pelonggaran aturan dengan lonjakan kasus pekerja ilegal, pelanggaran masa tinggal atau overstay, hingga peningkatan angka kriminalitas yang melibatkan warga negara asing.

Pada pekan lalu, kepolisian Thailand membekuk seorang pria warga negara Australia di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok. Pria tersebut ditangkap saat berupaya kabur dari wilayah Thailand setelah tersandung kasus dugaan pembunuhan terhadap remaja perempuan setempat yang jasadnya ditinggalkan dalam koper.

Tantangan Ekosistem Wisata Lokal

Di sisi lain, sektor pariwisata berkontribusi sekitar seperlima terhadap total perekonomian Thailand. Kondisi tersebut membuat jaringan perhotelan, restoran, pasar kuliner, penyedia transportasi, pusat selam, hingga agen tur lokal sangat bergantung pada tingginya kuantitas pelancong.

Kawasan destinasi utama seperti Phuket dan Chiang Mai sejak awal dirancang untuk mengakomodasi kunjungan skala besar. Situasi ini membuat transisi menuju kuantitas pelancong yang lebih sedikit namun berbelanja lebih tinggi menjadi tantangan tersendiri.

Thailand juga mulai kehilangan dominasi mutlak pada segmen pasar wisata ekonomis yang dulu mereka kuasai. Negara tetangga seperti Vietnam dan Indonesia kini tampil semakin kompetitif di kawasan regional.

Selain itu, tren penguatan nilai tukar mata uang baht dalam beberapa tahun terakhir ikut mengikis keunggulan kompetitif yang selama ini menjadi daya tarik tradisional pariwisata Thailand.

Selama beberapa dekade, industri pariwisata massal Thailand ditopang oleh nilai tukar yang murah, eksposur global lewat industri perfilman, serta lonjakan kunjungan turis asal China sebelum era pandemi. Namun, negara ini menghadapi kendala besar untuk mengembalikan momentum pertumbuhan tersebut pascapandemi Covid-19.

Nithee Seeprae mengklarifikasi bahwa penerapan strategi baru ini tidak dimaksudkan untuk mengeliminasi keberadaan para pelancong dengan anggaran terbatas secara mutlak.

"Bagi Thailand, kemewahan adalah tentang pengalaman yang bermakna dan pengalaman yang eksklusif," ujarnya. "Itulah definisi baru kami tentang kemewahan."

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author