Keluarga Indonesia Hadapi Lima Tantangan Mengelola Pekerja Rumah Tangga

Share

Kehadiran pekerja rumah tangga (PRT) atau asisten rumah tangga (ART) kini menjadi kebutuhan penting bagi banyak keluarga Indonesia untuk menjaga keseimbangan aktivitas harian. Namun, dilansir dari HaiBunda, banyak keluarga yang harus menghadapi berbagai persoalan rumit ketika mencari dan mempertahankan tenaga kerja tersebut. Masalah rekrutmen dan pengelolaan ART yang memicu stres sering kali mengganggu keseharian keluarga modern di tengah meningkatnya kebutuhan dukungan domestik.

Terdapat lima persoalan utama terkait PRT yang paling sering dikeluhkan oleh keluarga di Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

1. Berhenti Mendadak Tanpa Serah Terima

Banyak keluarga mengeluhkan pekerja yang mengundurkan diri secara tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan atau proses serah terima pekerjaan yang cukup.

Situasi ini memaksa pihak keluarga untuk mencari pengganti dari awal dan mengganggu stabilitas rutinitas rumah tangga yang sudah berjalan.

2. Standar Kerja Tidak Sesuai Ekspektasi

Keluarga kerap mendapati hasil kerja PRT yang tidak sejalan dengan kebutuhan standar rumah tangga modern saat ini.

Hal ini mencakup urusan kebersihan rumah, metode pengasuhan anak, hingga kemampuan beradaptasi dengan aturan dan kebiasaan yang berlaku di keluarga.

3. Kurangnya Keterampilan dan Pemahaman Kerja

Berdasarkan data Sakernas Februari 2025 dari Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 28,39 persen pekerja rumah tangga berpendidikan SMP dan 26,29 persen tidak tamat SD.

Perbedaan latar belakang pendidikan ini memicu kesenjangan keterampilan yang berujung pada miskomunikasi serta ketidaksesuaian ekspektasi antara majikan dan pekerja.

4. Masalah Kejujuran dan Kepercayaan

Kekhawatiran mengenai keamanan rumah dan anggota keluarga menjadi persoalan besar, terutama saat merekrut pekerja lewat jalur informal.

Proses rekrutmen informal umumnya berjalan tanpa adanya verifikasi identitas resmi maupun penelusuran rekam jejak yang jelas bagi pekerja.

5. Tingginya Pergantian Pekerja (Turnover)

Tingkat pergantian pekerja yang tinggi memaksa keluarga untuk terus beradaptasi dan mengulang proses pelatihan dasar dari awal secara berkala.

Di sisi lain, survei menunjukkan 55 persen PRT tidak mendapat libur mingguan dan bekerja tanpa kontrak, yang memicu kelelahan fisik serta mental.

Akar Masalah Hubungan Kerja PRT

Kesenjangan pendidikan yang tercatat dalam data Sakernas Februari 2025 memicu benturan ekspektasi yang cukup besar antara pihak keluarga dan pekerja domestik. Banyaknya PRT yang bekerja tanpa ikatan kontrak jelas dan minim waktu istirahat memicu kelelahan yang berujung pada tingginya angka perpindahan kerja.

Menurut Cicana, konflik yang terjadi umumnya bukan karena niat buruk, melainkan akibat rekrutmen yang tidak terstruktur, minim verifikasi, dan ketiadaan kesepakatan awal. Cicana menilai penyelesaian masalah tidak cukup dengan mencari pengganti, melainkan butuh ekosistem yang mendukung hubungan kerja profesional dan berkelanjutan.

Melalui pengalaman selama tujuh tahun terakhir, Cicana mengembangkan layanan untuk menyiapkan pekerja domestik yang siap kerja sekaligus menekan risiko konflik.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author