Taj Yasin Minta Santri Jawa Tengah Kuasai STEM dan Perkembangan AI
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendorong para santri penerima beasiswa untuk menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Penguasaan keterampilan modern tersebut harus berjalan beriringan dengan tradisi serta nilai keilmuan pesantren, seperti dilansir dari Detikcom. Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menegaskan pentingnya integrasi antara teknologi modern dan nilai keislaman.
Arahan ini disampaikan dalam penyerahan beasiswa santri dan pengasuh pondok pesantren di Gedung Merah Putih Semarang pada Rabu (12/8/2026). Taj Yasin menilai perkembangan teknologi, termasuk kemajuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), sudah merambah berbagai jenjang pendidikan. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi perlu diarahkan secara tepat agar membawa dampak positif bagi pesantren dan masyarakat luas.
Ia mengingatkan agar AI tidak sekadar dipakai untuk mempermudah pengerjaan tugas sekolah. Teknologi tersebut hendaknya dijadikan sarana pendukung proses belajar yang diimbangi dengan penguatan akhlak serta keilmuan.
"Para santri yang kami beri beasiswa kali ini, tolong pelajari betul teknologi, sains. Saat ini sudah menjadi metode pembelajaran bukan hanya di Indonesia, tetapi internasional," ujar Taj Yasin Maimoen dalam keterangan tertulis pada Kamis (13/8/2026). Pemprov Jateng merancang program beasiswa ini tidak hanya untuk mencetak lulusan berprestasi secara akademik. Para alumni penerima beasiswa diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata saat kembali ke lingkungan pondok pesantren.
Kebutuhan pesantren terhadap tenaga profesional kini semakin beragam, mulai dari sektor kesehatan, pertanian, hingga pengelolaan unit usaha. Taj Yasin mencontohkan keberadaan dokter dan ahli pertanian sangat dibutuhkan untuk mengembangkan kemandirian pesantren. "Pesantren butuh dokter, pesantren butuh usaha pertanian dan lain sebagainya," katanya.
Kesiapan untuk kembali dan mengabdi di lembaga asal menjadi bagian dari komitmen para penerima bantuan pendidikan tersebut. Ketentuan ini diatur secara resmi dalam kesepakatan bersama antara penerima beasiswa dan pihak pemerintah. "Ketika mereka dikembalikan ke pesantrennya masing-masing, salah satu MOU antara penerima beasiswa dengan kami adalah mereka siap untuk dikembalikan ke pesantrennya yang memberikan rekomendasi untuk berkontribusi," tuturnya.
Pola investasi sumber daya manusia ini diterapkan agar anggaran pemerintah memberikan dampak yang berkelanjutan. Alumni beasiswa diproyeksikan menjadi penggerak utama dalam memajukan lingkungan sekitar pesantren.
Selain menyerahkan beasiswa, Pemprov Jateng memperluas jejaring pendidikan dengan menandatangani nota kesepahaman bersama 25 Ma'had Ali atau perguruan tinggi berbasis pesantren. Kerja sama ini bertujuan memperluas akses bantuan pendidikan bagi para santri.
Mekanisme seleksi penerima beasiswa untuk tingkat Ma'had Ali akan disesuaikan secara khusus. Proses penyaringan calon penerima bakal melibatkan pihak-pihak yang terhubung langsung dengan pesantren pengelola. Peluang pendidikan luar negeri juga terus dibuka oleh Pemprov Jateng, salah satunya melalui penjajakan kerja sama dengan beberapa kampus di Maroko.
Sebelumnya, program beasiswa telah memfasilitasi santri belajar di Yaman, Mesir, China, serta berbagai perguruan tinggi dalam negeri. Taj Yasin meminta seluruh penerima bantuan memanfaatkan kesempatan belajar ini secara optimal. Santri generasi baru diharapkan memiliki kompetensi akademik yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar keilmuan pesantren.