Suster Pengasuh Klarifikasi Video Viral Siswa SD Digendong di Sumba
Aksi kepedulian antar sesama murid Sekolah Dasar Katolik (SDK) Marada Mbalar di Desa Kakaha, Kecamatan Ngadu Ngala, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, mendadak viral di media sosial setelah terekam menggendong rekannya yang merupakan penyandang disabilitas pada Selasa (21/7/2026).
Video berdurasi 29 detik tersebut memperlihatkan Dion, seorang murid kelas IV, menggendong teman sekelasnya bernama Sipri untuk pulang sekolah sembari membawa tasnya sendiri, dibantu murid lain yang membawakan barang-barang mereka.
Menanggapi rekaman tersebut, pengasuh Sipri dari Susteran ALMA, Suster Yanti Huki, ALMA, memberikan klarifikasi guna meluruskan narasi yang beredar agar tidak disalahartikan oleh publik.
"Betul, Sipri diasuh oleh kami para Suster ALMA. Sipri tinggal di susteran dan sudah sekitar tujuh tahun bersama kami," kata Suster Yanti, Sabtu (25/7/2026).
Pihak susteran meluruskan bahwa Sipri bukan tidak mendapat perhatian hingga harus digendong setiap hari, sebab transportasi rutin biasanya menggunakan sepeda motor jika pengasuh tidak sedang bertugas di luar.
"Biasanya saya yang menjemput Sipri menggunakan sepeda motor. Tetapi kalau saya sedang tidak berada di tempat karena tugas lain, teman-temannya yang membantu menggendongnya," kata Suster Yanti, pengasuh Sipri.
Selain Dion, terdapat tiga teman sekelas lainnya yang secara sukarela membantu Sipri menuju dan pulang dari sekolah yang berjarak sekitar 200 hingga 300 meter dari tempat tinggalnya.
"Tidak setiap hari Sipri digendong. Jadi, caption dalam video yang viral itu kurang tepat," kata Suster Yanti, Suster ALMA.
Meski mengapresiasi sisi positif video yang memperlihatkan toleransi dan kasih sayang antar siswa, pihak susteran mengimbau agar rekaman tersebut tidak dijadikan ajang penggalangan dana liar.
"Kalau cuplikan video itu dilihat dari sisi positif, sebenarnya mengajarkan tentang kasih, toleransi, dan tidak melakukan perundungan (no bullying)," kata Suster Yanti, pengasuh di Susteran ALMA.
Sipri yang berasal dari Kodi, Sumba Barat Daya, sebenarnya telah memiliki fasilitas kursi roda, tetapi belum dapat digunakan akibat akses jalan menuju sekolah yang belum diaspal dan rusak.
"Kami berharap video itu tidak disalahgunakan, terlebih untuk membuka donasi. Jangan sampai muncul kesan Sipri tidak diperhatikan," kata Suster Yanti, Suster ALMA.
Perekam video yang merupakan guru SDK Marada Mbalar, Magdalena P Haingu, mengabadikan momen spontan tersebut saat anak-anak beranjak pulang sekolah.
"Saya kebetulan sedang memegang telepon seluler dan melihat momen itu. Saya langsung berpikir untuk mengdatabindikannya ketika anak-anak keluar sekolah. Saya sama sekali tidak menyangka videonya akan viral," kata Magdalena, Jumat (24/7/2026).
Pihak sekolah menyatakan bahwa aksi saling membantu yang ditunjukkan oleh Dion dan murid-murid lainnya merupakan kebiasaan alami yang tumbuh tanpa paksaan maupun arahan guru.
"Dua siswa itu sama-sama kelas IV. Yang disabilitas namanya Sipri, sedangkan yang menggendong bernama Dion," kata Magdalena, Guru SDK Marada Mbalar.
Sipri diketahui masih memiliki keluarga utuh dan mendapatkan pendampingan khusus dari para Suster ALMA untuk menunjang aktivitas harian serta pendidikannya.
"Si Sipri tinggal bersama para suster yang mengasuhnya. Dia berasal dari Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya. Sebenarnya Sipri sudah memiliki kursi roda, tetapi karena kondisi jalan menuju sekolah belum diaspal, kursi roda sulit digunakan sehingga ia lebih sering digendong," kata Magdalena, Guru SDK Marada Mbalar.