Survei Pew Tunjukkan Citra China Salip Amerika Serikat
Pusat Riset Pew merilis hasil jajak pendapat terbaru pada Rabu (15/7/2026) yang menunjukkan opini global berbalik lebih menyukai China dan Presiden Xi Jinping dibandingkan dengan Amerika Serikat serta Presiden Donald Trump. Pergeseran luar biasa ini didorong oleh ketegangan antara pemerintahan Trump dengan sekutu-sekutu AS, di mana masyarakat di 25 dari 36 negara dan wilayah yang disurvei memandang Beijing lebih positif. Survei yang berlangsung dari Februari hingga Mei tersebut mencatat hanya enam negara yang masih melihat AS lebih positif daripada China, yaitu Polandia, Filipina, Korea Selatan, India, Jepang, dan Israel.
Pandangan terhadap Xi Jinping juga lebih unggul dibandingkan Donald Trump di 22 negara, termasuk di Kanada, Meksiko, serta kekuatan utama Eropa seperti Prancis, Jerman, dan Inggris.
“Ada hubungan nyata antara meletusnya perang dan anggapan bahwa AS tidak berkontribusi pada perdamaian dan stabilitas serta masyarakat yang kurang percaya pada Donald Trump,” ujar Laura Silver, wakil direktur Riset Sikap Global Pew. Silver menambahkan bahwa peralihan opini ini terjadi setelah pandemi Covid-19 menjadi isu masa lalu dan ketika pandangan global terhadap AS mulai memburuk.
“Sebagai perbandingan, kita tahu bahwa China dipandang sebagai mitra yang lebih andal di banyak tempat. Negara itu lebih mungkin dilihat berkontribusi pada perdamaian dan stabilitas global,” kata peneliti tersebut. Pew mencatat pergeseran tajam terjadi di Kanada, di mana pandangan positif terhadap AS anjlok dari 57 persen pada 2023 menjadi 33 persen, sementara opini positif terhadap China melonjak dari 14 persen menjadi 44 persen.
Pihak Kedutaan Besar China di Washington memberikan respons positif terhadap hasil jajak pendapat global yang dikeluarkan oleh lembaga riset tersebut. Pernyataan dari Kedutaan Besar China di Washington menyebutkan bahwa jajak pendapat terbaru “menunjukkan bahwa pencapaian tata kelola dan kemajuan pembangunan China diakui secara luas.” Gedung Putih tidak segera memberikan tanggapan terkait hasil survei yang melibatkan lebih dari 42.000 responden di 35 negara ditambah wilayah Tepi Barat dan Yerusalem Timur tersebut.