Surabaya Luncurkan Program Mitigasi Sampah Plastik Sungai

Share

Kota Surabaya resmi menjadi lokasi perdana pelaksanaan program "Partnership for Preventing Riverine Plastic Pollution" di Indonesia. Langkah ini merupakan kolaborasi bilateral antara Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Pangan bersama Pemerintah Uni Emirat Arab dan United Nations Development Programme Indonesia.

Kerja sama lintas negara tersebut ditujukan untuk menekan pencemaran sampah plastik di aliran sungai sebelum bermuara ke laut, seperti dilansir dari Detikcom. Pengenalan program dilaksanakan melalui Soft-Launching yang bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada Jumat (5/6).

Pemilihan Kota Surabaya sebagai lokasi pertama didasarkan pada komitmen kuat pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah dan pengendalian pencemaran lingkungan. Inisiatif ini berfokus pada pengendalian aliran sungai, pembersihan sampah, penguatan ekonomi sirkular, serta perubahan perilaku masyarakat.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya M. Fikser menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat atas penunjukan tersebut. Kepercayaan ini dinilai sebagai dorongan besar bagi optimalisasi penanganan limbah di wilayahnya.

"Terima kasih kepada Kementerian Lingkungan Hidup, Kemenko Bidang Pangan dan seluruh kementerian yang lain. Surabaya ditunjuk menjadi salah satu lokasi Soft-Launching terkait dengan (penanganan) sampah plastik, sekaligus peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia," kata Fikser dalam keterangan tertulis, Kamis (11/6/2026).

Penerapan program ini sudah berjalan di Kali Tebu dan Kali Mrutu dengan memasang sistem penahan sampah atau trash boom. Sistem tersebut berfungsi untuk menghambat pergerakan sampah plastik agar tidak terbawa arus menuju laut bebas.

"Project yang sekarang dijalankan di Kali Tebu dan Kali Mrutu itu sangat berdampak," ujarnya.

Kolaborasi antara DLH Surabaya dan sejumlah lembaga swadaya masyarakat lokal memperlihatkan hasil yang signifikan. Setiap hari, petugas berhasil mengamankan sekitar satu ton sampah plastik dari aliran sungai tersebut.

"Satu hari, 1 ton sampah plastik yang kemudian diambil oleh teman-teman Ecoton begitupun juga Lohjinawi. Kami fasilitasi tempat bagi teman-teman dua NGO ini," jelasnya.

Pemerintah Kota Surabaya memberikan dukungan penuh terhadap operasional program di lapangan. Fasilitasi tempat dan penguatan edukasi diberikan secara intensif kepada masyarakat yang bermukim di sekitar bantaran sungai.

"Pak Wali Kota Eri Cahyadi sudah pesan, support habis seluruh kebutuhan dari teman-teman (NGO) ini. Sehingga kemudian kita tidak hanya itu (membersihkan sampah), tapi ada edukasi kepada warga di sekitar untuk menjaga lingkungan," tuturnya.

Pemberdayaan Ekonomi Sirkular

Program intervensi limbah ini juga menerapkan pendekatan ekonomi sirkular agar memberikan dampak berkelanjutan. Sampah yang diangkat dari sungai tidak langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir, melainkan dipilah dan dimanfaatkan kembali.

Proses pemilahan ini membuka lapangan kerja baru dan peluang ekonomi bagi warga sekitar. Masyarakat dilibatkan langsung dalam rantai pengelolaan mulai dari memilah, mengemas, hingga menjual material yang bernilai ekonomis.

"Dari hasil sampah yang diambil itu dilakukan pemilahan. Jadi warga juga bisa bekerja dan mendapatkan manfaat," ungkapnya.

Dampak positif dari program ini mulai mengubah kondisi lingkungan di kawasan Kali Tebu. Area sungai yang sebelumnya dipenuhi tumpukan limbah kini terlihat jauh lebih bersih dan membangkitkan kesadaran warga setempat.

"Kali Tebu sekarang bersih. Jadi apa yang kita lakukan itu ternyata warga juga terpanggil untuk ingin berusaha menjaga lingkungannya," ungkapnya.

Meskipun volume sampah yang tertahan di Kali Tebu masih menyentuh angka satu ton per hari, grafik penurunan mulai terlihat. Meningkatnya kepedulian masyarakat membuat mereka lebih berhati-hati sebelum membuang sampah ke aliran air.

"Sampai hari ini masih bertahan di antara 1 ton, ada penurunan. Karena setelah lihat (kondisi sungai), orang mau buang lagi ragu-ragu karena sudah mulai baik. Terus sampah itu kita tahan (trash boom) di depan," katanya.

Strategi Penurunan Sampah dari Hulu

Indikator keberhasilan utama dari program ini terletak pada penurunan volume sampah langsung dari sumbernya. Oleh karena itu, Pemkot Surabaya mengarahkan fokus perhatian pada area hulu dan sektor rumah tangga.

"Kita berharap sampah itu semakin berkurang, baru dikatakan berhasil. Untuk itu, kita akan memperkuat di hulu, kita harus tekan sampah dari rumah tangga," tegasnya.

Guna mencapai target tersebut, dijalankan program pengurangan sampah berbasis komunitas melalui Kampung Zero Waste dan Program Kampung Iklim. Walikota Surabaya menargetkan penurunan timbulan sampah kota hingga mencapai 40 persen.

"Jadi target Pak Wali Kota kepada kami Dinas Lingkungan Hidup, sampah harus berkurang 40%. Di Surabaya sampah per hari menghasilkan sekitar 1.800 ton," jelasnya.

Dari total produksi sampah harian tersebut, sekitar 200 ton di antaranya dikelola di TPS 3R karena memiliki nilai ekonomis. Sementara itu, 1.000 ton sampah masuk dalam skema konversi energi di Pembangkit Listrik Tenaga Sampah Benowo, dan 600 ton sisanya masih berakhir di TPA.

Sebagai solusi penanganan sisa sampah tersebut, pemerintah pusat menunjuk Surabaya untuk mengembangkan fasilitas Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik di lahan seluas 5,8 hektare di Sumber Rejo, Kecamatan Pakal.

"Sehingga sampah yang 600 ton itu, (ke depan) juga bisa kemudian terbakar bersama dengan (sampah) dari wilayah Surabaya Raya, yakni Surabaya, Sidoarjo, Gresik dan Lamongan," kata Fikser.

Edukasi dan Perubahan Perilaku Pembatasan Sampah

Koordinator Pokja Perubahan Perilaku Masyarakat Direktorat Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup, Sri Murwani Nurfadilastuti, menyatakan bahwa perubahan kebiasaan masyarakat adalah kunci utama.

"Nah, salah satunya adalah untuk mendorong masyarakat bisa membatasi sampah dan juga memilah sampah dari sumbernya," ujarnya.

Pemerintah daerah diminta terus mendorong gerakan pemilahan ini agar limbah anorganik dan organik dapat didaur ulang. Pola penanganan ini krusial agar sampah tidak mencemari lingkungan terbuka sekaligus memberikan stimulus ekonomi bagi warga.

"Kami mengapresiasi dan kami terus mendorong upaya-upaya untuk melakukan pengelolaan sampah," imbuhnya.

Koordinator Sekretariat Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut, Ahmad Bahri Rambe, menambahkan bahwa program ini didesain secara komprehensif. Cakupan operasionalnya meliputi pengangkatan sampah organik maupun anorganik, pengelolaan lanjutan, serta edukasi.

"Jadi program ini bukan hanya mengambil sampah yang plastik saja, tapi juga sampah organik. Nanti sampah-sampah ini akan dikelola, di-recycle dan yang bernilai nanti akan dimanfaatkan," ujar Bahri.

Melalui metode terpadu ini, diharapkan tercipta sistem pengelolaan sampah sungai berkelanjutan yang manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

"Jadi programnya cukup komprehensif. Bagaimana mengambil sampah sungai tapi juga melakukan edukasi ke masyarakat, sehingga nanti program ini bisa berjalan dengan baik dan berkesinambungan," imbuhnya.

Staf Asisten Deputi Ekonomi Sirkular dan Dampak Lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Ahmad Didin, mengonfirmasi bahwa agenda nasional ini berjalan di lima lokasi, yaitu Surabaya, Sidoarjo, Bekasi, Solo, dan Bali.

"Project ini sudah berjalan di Kota Surabaya, dan harapannya nanti Surabaya menjadi kota percontohan di antara lima tadi. Sehingga semua (daerah) bisa meniru apa yang sudah dilakukan Surabaya jika program ini sudah berhasil," pungkas Didin.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author