Sultan HB X Kunjungi Situs Sejarah di Sragen dan Basuh Muka di Sendang
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, melakukan kunjungan ke sejumlah situs bersejarah di Kabupaten Sragen. Perjalanan ini diwarnai dengan momen Sultan mencuci muka di sebuah sendang.
Situs-situs yang dikunjungi tersebut memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Keraton Kasultanan Yogyakarta. Beberapa lokasi yang disambangi meliputi Pandak, Krikilan, Goa Mangkubumi, Pesanggrahan Ponopatan di Katelan, serta Sendang Sumberan Japoh.
Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkab Sragen, Hargiyanto, menjelaskan bahwa kunjungan Sultan HB X ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Muhibah Budaya. Program tersebut menyasar ke beberapa situs petilasan leluhur sang Sultan.
Saat berada di Pandak, Sultan HB X menelusuri tempat singgah pertama leluhurnya, Pangeran Mangkubumi, di wilayah Kabupaten Sragen, seperti dilansir dari Detik Travel.
"Ya kan di sana kan yang dijelaskan yang pertama waktu kunjungan pertama Pangeran Mangkubumi, Mangkubumi HB I itu datang ke Sragen kan ke Pandak dulu, Krikilan. Diceritakan di sana riwayat bagaimana Kanjeng Mangkubumi dari Keraton Jogja, karena ada sedikit perselisihan, karena mungkin dengan Belanda, Hindia Belanda ya, akhirnya terus dia jengkar (pergi) dari Keraton terus lari ke Sragen," cerita Hargiyanto kepada awak media di Kantor Pemkab Sragen, Kamis (9/7).
Ketika mengunjungi Sumberan di Japoh, Sultan HB X sempat membasuh muka dan tangannya. Lokasi ini dikenal memiliki beberapa mata air serta dikelilingi puluhan pohon berukuran besar yang mampu menampung air.
"Iya di situ tadi, iya. Tadi sempat cuci muka, cuci tangan, pokoknya yang jelas ini melihat membasuh tangannya seperti itu, membasuh tangannya. Karena memang di situ ada tujuh mata air yang mengalir dan memang potensial karena di situ ada 21 macam pohon gede-gede, pohon-pohon yang bisa menampung air," beber Hargiyanto.
Melihat potensi dari kunjungan tersebut, pihak pemerintah daerah memperkirakan lokasi ini akan menjadi populer dan menarik banyak wisatawan. Oleh karena itu, Pemkab Sragen mengagendakan proyek rehabilitasi kawasan Situs Sumberan di Japoh pada tahun anggaran 2027.
"Saya kira ini potensial sekali, terutama yang Sumberan tadi. Tahun 2027 insyaallah Pak Bupati akan merencanakan untuk merehab, tetapi merehabnya ya seperti-seperti itu tapi direhab yang baik. Saya melihat nanti akan viral, lha Pak Kanjeng Sultan cuci muka di situ saja ini nanti orang pasti besok pagi banyak yang ke situ," jelas Hargiyanto.
Kegiatan Muhibah Budaya ini diharapkan mampu membuka lembaran baru dalam hubungan historis antara Yogyakarta dan Sragen. Langkah ini dipandang sebagai sarana krusial untuk merajut kembali ikatan persaudaraan batin Mataraman yang telah lama terbangun.
"Selama ini daerah Mataraman luar seperti Blitar, Tulungagung, atau Ponorogo sudah sering tersentuh kerja sama kebudayaan Jogja. Padahal Sragen ini adalah tempat awal mula perjuangan sebelum Keraton Jogja berdiri," ujar Hargiyanto.
Melalui momentum ini, Pemkab Sragen mulai menjalin komunikasi yang intens dengan Pemerintah Provinsi DIY. Kerja sama tersebut juga melibatkan Sekda Pemprov DIY yang hadir langsung dalam acara.
"Kami berharap ke depan ada kerja sama kebudayaan yang lebih erat, termasuk pelestarian budaya di Sragen lewat dukungan Dana Keistimewaan," kata Hargiyanto.