Suhu Dieng Capai Minus 6 Derajat Celsius dan Bekukan Tanaman

Share

Fenomena embun es ekstrem kembali menyelimuti kawasan Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, pada Kamis (9/7/2026) pagi setelah suhu udara merosot tajam hingga menyentuh minus 6 derajat Celsius. Penurunan suhu drastis ini memicu lonjakan kunjungan puluhan ribu wisatawan di tengah masa libur sekolah, sekaligus menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan petani lokal atas potensi kerusakan massal pada komoditas tanaman kentang.

Kondisi suhu udara ekstrem tersebut dikonfirmasi oleh Kepala UPT Dieng Banjarnegara, Wibi Satria N., yang menyatakan bahwa angka ini menjadi rekor terendah sepanjang tahun 2026 berjalan.

"Betul, mas," kata Wibi Satria N., Kepala UPT Dieng Banjarnegara.

Wibi menjelaskan bahwa pembekuan embun pagi kali ini memiliki ketebalan yang lebih tinggi dibandingkan kejadian sebelumnya serta meluas ke berbagai wilayah desa sekitar.

"Seperti video yg beredar mas. Dipastikan banyak tanaman komoditas mati," kata Wibi Satria N., Kepala UPT Dieng Banjarnegara.

Dampak dari suhu yang membekukan ini dikhawatirkan dapat melumpuhkan sektor pertanian hortikultura di Dieng jika terus bertahan dalam beberapa hari ke depan.

"Lihat beberapa hari ke depan, Mas. Kalau seperti tadi pagi tiga hari ke depan, 90% bisa mati semua. Mayoritas di Dieng tanaman kentang," ujar Wibi Satria N., Kepala UPT Dieng Banjarnegara.

Cakupan wilayah yang terdampak embun upas ini dilaporkan merata di batas wilayah administrasi Dieng, mulai dari area pemukiman hingga situs wisata sejarah.

"Nggih, embunnya lebih tebal dan cakupan wilayah lebih luas. Desa Dieng Kulon sampai Karangtengah, Mas. Termasuk Dieng Wetan," kata Wibi Satria N., Kepala UPT Dieng Banjarnegara.

Sementara itu, tim pembuat aplikasi Cuaca Dieng, Aryadi Darwanto, menyampaikan bahwa pembulatan angka suhu ekstrem ini tercatat langsung dalam sistem pemantauan digital mereka.

"Suhu udara tadi pagi minus 5 koma sekian, tapi di aplikasi dibulatkan jadi minus 6. Ini jadi yang terdingin tahun ini," ungkap Aryadi Darwanto, Tim Pembuat Aplikasi Cuaca Dieng.

Kristal es akibat cuaca dingin ini dilaporkan melekat erat pada benda-benda logam dan kendaraan bermotor yang diparkir terbuka di luar ruangan.

"Di kap mobil, di atap mobil membeku semua," ujar Aryadi Darwanto, Tim Pembuat Aplikasi Cuaca Dieng.

Aryadi menambahkan bahwa jangkauan sebaran embun beku pada periode kemarau ini meluas hingga ke area puncak-puncak gunung di sekitarnya yang biasanya jarang terdampak.

"Kemunculan embun es sampai ke Gunung Bismo, baru kali ini terjadi, sebelumnya hanya muncul di Sikunang (basecamp pendakian Gunung Bismo)." kata Aryadi Darwanto, Tim Pembuat Aplikasi Cuaca Dieng.

Menurutnya, intensitas kemunculan fenomena alam ini menunjukkan grafik peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Gunung Prau, Pangonan juga muncul, sampai Kawah Sikidang juga muncul. Jadi dataran tinggi Dieng kena semua," jelas Aryadi Darwanto, Tim Pembuat Aplikasi Cuaca Dieng.

Ia juga membandingkan kondisi cuaca pada hari sebelumnya yang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan suhu di bawah normal.

"Sudah beberapa kali muncul, kemarin pagi juga suhu 2 derajat celsius terbentuk embun es. Tahun ini sepertinya lebih sering muncul," kata Aryadi Darwanto, Tim Pembuat Aplikasi Cuaca Dieng.

Dari sisi kepariwisataan, Kepala Dinparbud Kabupaten Banjarnegara, Tursiman, melihat kemunculan embun upas ini sebagai momentum penting bagi daya tarik pariwisata daerah di Kompleks Candi Arjuna.

"Ini merupakan fenomena alam yang memang terjadi. Biar masyarakat tahu dan wisatawan juga banyak hadir ke sana untuk menikmati suasana ini," ujar Tursiman, Kepala Dinparbud Kabupaten Banjarnegara.

Lonjakan arus wisatawan keluarga dan anak sekolah ini turut divalidasi oleh data statistik penjualan tiket resmi yang dikelola oleh dinas pariwisata setempat.

"Alhamdulillah ini bertepatan dengan liburan sekolah. Kunjungan sangat signifikan naiknya karena terkait isu embun upas. Banyak wisatawan yang tertarik karena fenomena alam ini memang jarang terjadi, sehingga mereka beramai-ramai datang ke Dieng, banyak juga yang berwisata bersama keluarga," kata Eko Sri Wurjani Juniasih, Kepala Bidang Kelembagaan, Sumber Daya Manusia dan Pemasaran Dinparbud Banjarnegara.

Pihak Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga mengeluarkan imbauan keselamatan bagi para pengunjung terkait kesiapan fisik menghadapi pembentukan kristal es akibat aktifnya monsun Australia ini.

"Kami imbau wisatawan yang akan berkunjung selama periode Juni sampai September untuk menyiapkan pakaian yang disesuaikan dengan kondisi setempat, seperti jaket tebal, sarung tangan, dan kaus kaki" kata Yoga Sambodo, Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Semarang.

Yoga menerangkan lebih lanjut mengenai mekanisme pelepasan radiasi balik permukaan bumi yang berlangsung optimal pada malam hari saat langit bersih tanpa awan.

"Sama seperti pada siang hari, radiasi yang dipancarkan balik oleh permukaan bumi pada malam hari juga optimum karena langit bebas dari tutupan awan," kata Yoga Sambodo, Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Semarang.

Visualisasi kondisi tanaman yang dilapitas es bening tersebut sempat diunggah dan menjadi perbincangan hangat di media sosial oleh masyarakat.

"Dieng pagi ini Kamis 09 Juli 2026 di kabarkan suhu mencapai-6 derajat celcius, dan seperti ini penampakkannya," tulis akun Instagram @brentsastro dalam takarirnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author