Studi Terbaru Ungkap Letusan Gunung Toba Tidak Ganggu Iklim Afrika
Dampak gangguan iklim akibat erupsi Gunung Toba di Afrika Timur ternyata relatif minim dan berlangsung kurang dari dua tahun. Temuan ini mengoreksi pandangan lama yang menyebut bencana dahsyat tersebut memicu perubahan iklim global bertahun-tahun.
Erupsi dahsyat yang terjadi sekitar 74.000 tahun lalu itu memuntahkan sedikitnya 2.800 kilometer kubik material ke atmosfer. Peristiwa dengan tingkat 8 skala Volcanic Explosivity Index (VEI) ini menyebarkan debu vulkanik hingga ke India, Laut China Selatan, dan Afrika Selatan.
Riset terbaru ilmuwan Johannes Gutenberg University Mainz Jerman merekonstruksi riwayat iklim dari sampel sedimen Danau Chala di perbatasan Kenya dan Tanzania. Dilansir dari Detikcom, peneliti Jinheum Park menjelaskan dampak letusan Toba di wilayah tersebut hanya bertahan sekitar 1 tahun 6 bulan.
"Temuan kami menunjukkan bahwa dampak iklim dari letusan Toba di Afrika timur relatif kecil dibandingkan dengan dinamika iklim alami lainnya, sehingga memungkinkan parameterisasi model sistem Bumi yang lebih baik untuk menilai dampak lingkungannya," kata Park, dikutip dari Science Advance.
Analisis arsip iklim menunjukkan pendinginan radiatif di Afrika Timur akibat abu Toba diperkirakan tidak melebihi 1°C. Penurunan suhu yang bahkan berkisar 0,5°C tersebut dinilai tidak sampai mengganggu populasi manusia purba di sana.
"Dalam kasus letusan Toba sekitar 74.000 tahun yang lalu, analisis kami bertentangan dengan paradigma dampak tinggi yang telah lama ada. (Jadi) peristiwa vulkanik terbesar yang terjadi selama keberadaan spesies kita, kemungkinan tidak akan secara signifikan memengaruhi populasi manusia kontemporer di Afrika," tulis Park dalam studinya.
Kondisi berbeda terjadi di kawasan lain seperti India yang mengalami pengendapan abu tebal. Erupsi yang berlangsung pada musim dingin di Belahan Bumi Utara diperkirakan memengaruhi fenologi vegetasi lokal serta ketersediaan sumber daya pangan penduduk setempat.
"Dengan mengecualikan daerah-daerah tersebut, hasil kami menunjukkan bahwa di wilayah (sub-)tropis yang jauh dari kaldera Toba, erupsi Toba tidak menyebabkan gangguan iklim atau lingkungan yang substansial," kata Park.
Meski mematahkan teori kepunahan akibat erupsi Toba di Afrika, Park mengakui penelitiannya masih memiliki keterbatasan. Hal ini disebabkan penggunaan Danau Chala sebagai satu-satunya sumber data sedimen tahunan dalam riset tersebut.