Studi Dompet Jatuh Ungkap Tingkat Kejujuran Warga di Berbagai Negara

Share

Pemetaan tingkat kejujuran masyarakat secara global berhasil dilakukan oleh tim peneliti internasional melalui eksperimen unik. Penelitian ini memanfaatkan metode eksperimen lapangan dengan cara menyebarkan ribuan dompet di berbagai wilayah perkotaan.

Dikutip dari Detikcom, para peneliti menyerahkan 17.003 dompet yang diskenariokan 'jatuh' kepada pihak pengelola bisnis serta lembaga publik. Eksperimen ini mencakup 355 kota yang tersebar di 40 negara.

Jumlah dompet yang dikembalikan secara utuh kepada pemiliknya kemudian dicatat sebagai parameter utama. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat kejujuran warga bervariasi secara signifikan di tiap wilayah.

Masyarakat di Swiss, Norwegia, dan Belanda menempati urutan teratas sebagai yang paling jujur. Sebaliknya, Tiongkok, Maroko, dan Peru berada di posisi paling bawah dalam daftar tersebut.

Tiongkok tercatat hanya mengembalikan 7 persen dompet kosong. Sementara itu, tingkat pengembalian dompet berisi uang di Peru cuma mencapai 13 persen.

Amerika Serikat dan Inggris berada di papan tengah pada peringkat ke-21 dan ke-22. Persentase pengembalian dompet di kedua negara tersebut masing-masing sebesar 52 persen dan 50 persen.

Indonesia menempati posisi ke-9 dalam daftar negara paling tidak jujur, satu tingkat di atas Ghana. Peringkat atas daftar ini secara umum didominasi oleh negara berpendapatan tinggi, sedangkan negara miskin cenderung berada di papan bawah.

Riset yang dipublikasikan di jurnal Science pada 20 Juni 2019 ini dipimpin oleh Alain Cohn dari Universitas Michigan bersama rekan-rekannya dari Universitas Zurich. Penemuan mengejutkan mengungkapkan bahwa dompet berisi uang lebih banyak justru lebih sering dikembalikan.

Di 38 negara, dompet berisi uang senilai $94,25 dikembalikan hingga 72 persen. Angka ini lebih tinggi dibanding dompet yang hanya berisi $13,46 dengan tingkat pengembalian 51 persen.

Kecuali di Meksiko dan Peru, dompet berisi sedikit uang tetap memiliki peluang dikembalikan lebih tinggi daripada dompet yang kosong sama sekali.

Kendati demikian, temuan dari pengujian eksperimental ini masih memicu perdebatan di kalangan akademisi. Penjelasan mengenai faktor utama yang memengaruhi hasil pengujian dinilai belum sepenuhnya pasti.

"Kita mungkin belum memiliki jawaban yang jelas," kata Dr Jareef Martuza, asisten profesor di Departemen Strategi dan Manajemen Sekolah Ekonomi Norwegia.

Martuza menilai variasi tingkat pengembalian barang hilang dipengaruhi oleh norma masyarakat, kepentingan pribadi, serta konteks lingkungan tempat kejadian.

Studi lain oleh Dr. David Hugh-Jones dari Universitas East Anglia (UEA) menunjukkan bahwa tingkat kejujuran dapat berubah tergantung indikator yang digunakan. Saat diuji dengan lempar koin berhadiah uang, Inggris mencatat tingkat kejujuran 3,4 persen, sedangkan China mencapai 70 persen.

Namun pada pengujian secara daring, responden asal Jepang dan Inggris terbukti paling jujur, sementara responden Turki mencatatkan tingkat kejujuran paling rendah.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author