Studi Akademis Tunjukkan Prof Achmad Mochtar Korban Fitnah Jepang
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menggelar Seminar Akademik untuk mengusulkan gelar Pahlawan Nasional bagi Prof Dr Achmad Mochtar, seperti dilansir dari Detik Health. Ilmuwan asal Minangkabau ini merupakan salah satu pelopor ilmu kedokteran Indonesia sekaligus mantan Direktur Lembaga Eijkman.
Perjalanan hidup Achmad Mochtar berakhir tragis pada 1945. Militer Jepang menuduhnya mencemari vaksin tetanus yang menewaskan ratusan pekerja romusha. Ia ditangkap, mengalami penyiksaan selama berbulan-bulan, hingga akhirnya dieksekusi mati oleh tentara Jepang.
Tuduhan sebagai dalang tragedi vaksin maut tersebut sempat membayangi nama Achmad Mochtar selama puluhan tahun. Namun, serangkaian riset sejarah dan kajian ilmiah terkini menemukan bukti bahwa ia diduga kuat menjadi korban fitnah demi menutupi kesalahan militer Jepang.
Mantan Direktur Lembaga Eijkman, Prof Sangkot Marzuki, menjelaskan bahwa Achmad Mochtar adalah lulusan STOVIA yang memegang peran sentral dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di Tanah Air. Kiprahnya sejajar dengan tokoh besar lain seperti dr Cipto Mangunkusumo dan Prof Sardjito.
"Mokhtar bersama Sardjito dan Cipto adalah lulusan STOVIA pertama yang menjadi dokter ilmuwan. Mereka bukan dokter klinik ataupun dokter praktisi, tetapi dokter ilmuwan. Daftar publikasi ilmiah ketiganya dengan jelas menunjukkan mereka sangat produktif sebagai dokter ilmuwan," kata Sangkot dalam Seminar Pengusulan Gelar Pahlawan Achmad Mochtar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Selasa (4/8/2026).
Sangkot menilai sistem pendidikan era Hindia Belanda tidak hanya mencetak pemuda pergerakan nasional. Lembaga pendidikan masa itu juga membentuk deretan pejuang ilmu pengetahuan yang memberikan sumbangsih besar di bidang kesehatan.
"Pendidikan di zaman Hindia Belanda ternyata bukan saja menghasilkan pemuda-pemuda yang mengawali kebangkitan nasional Indonesia, tetapi juga melahirkan pejuang ilmu pengetahuan seperti Sardjito, Cipto, dan Ahmad Mokhtar," ujarnya.
Tuduhan Sabotase dan Pengorbanan di Lembaga Eijkman
Sebelum terseret tuduhan pencemaran vaksin, Achmad Mochtar berkarier di Geneeskundig Laboratorium yang belakangan berganti nama menjadi Lembaga Eijkman. Kinerjanya yang cemerlang mengantarkan dirinya dipercaya memimpin lembaga riset tersebut, sebuah posisi yang amat jarang diduduki warga pribumi kala itu.
Kepemimpinannya di Lembaga Eijkman tetap berlanjut saat Jepang menduduki Indonesia pada 1942. Kendati demikian, seluruh kegiatan penelitian berada di bawah pengawasan ketat tentara pendudukan yang memanfaatkan fasilitas medis untuk kepentingan perang.
Petaka melanda ketika ratusan romusha meninggal dunia secara mendadak setelah menerima suntikan vaksin tetanus. Pihak Jepang menuding vaksin simpanan Lembaga Eijkman telah disabotase menggunakan racun bakteri tetanus.
Militer Jepang menempatkan Achmad Mochtar sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas insiden tersebut. Kepolisian militer Jepang, Kempetai, lantas menangkap Achmad Mochtar beserta para stafnya.
"Dia berbulan-bulan disiksa oleh Kempetai. Rekan-rekan di Lembaga Eijkman juga ditangkap dan disiksa. Dua meninggal dunia dalam penyiksaan," kata Sangkot.
Eksekusi hukuman mati dengan cara dipancung akhirnya dijatuhkan kepada Achmad Mochtar. Menurut Sangkot, tindakan tersebut membuat Achmad Mochtar mempertaruhkan nama baiknya di samping kehilangan nyawa.
"Apakah Mokhtar ini pahlawan yang mengorbankan namanya, mewakafkan nyawanya, atau dia penjahat yang membunuh ratusan orang dengan vaksin maut? Pertanyaan itu baru bisa dijawab setelah arsip-arsip baru ditemukan," ujarnya.
Pembuktian Ilmiah dan Temuan Arsip Rahasia
Upaya pemulihan nama baik Achmad Mochtar dimulai ketika sejumlah ilmuwan menguji ulang kasus tersebut puluhan tahun kemudian. Sangkot Marzuki bersama Kevin Beck menerbitkan buku yang membedah tragedi vaksin tetanus menggunakan pendekatan sains.
Hasil kajian ilmiah membuktikan bahwa tuduhan sabotase di Lembaga Eijkman tidak masuk akal secara teknis. Lembaga Eijkman tidak memiliki fasilitas pembuat spora bakteri tetanus dalam jumlah besar, sebab vaksin tersebut diproduksi oleh Pasteur Institute di Bandung.
Pemeriksaan laboratorium kala itu juga tidak mendeteksi keberadaan bakteri tetanus pada sampel yang diuji. Peneliti justru menemukan kandungan toksin tetanus dalam kadar yang sangat tinggi.
Titik terang kian jelas setelah sejarawan Jepang Aiko Kurasawa melakukan penelusuran dokumen militer selama hampir empat dekade. Arsip rahasia yang ditemukan di Keio University mengindikasikan bahwa militer Jepang sengaja mengambinghitamkan Achmad Mochtar guna menutupi kelalaian produksi vaksin mereka.
Hasil riset tersebut turut menguak keterkaitan kasus ini dengan Unit 731, yakni satuan perang biologis kekaisaran Jepang yang dikenal kerap melakukan eksperimen medis selama Perang Dunia II.
Rangkaian fakta ilmiah dan bukti sejarah ini menjadi acuan utama dalam pengusulan Achmad Mochtar sebagai Pahlawan Nasional. Nama sang ilmuwan kini perlahan pulih sebagai pejuang yang mengabdikan seluruh hidupnya bagi dunia kedokteran Indonesia.