Stok Rudal Patriot Amerika Serikat Menipis Capai 65 Persen

Share

Konsumsi amunisi rudal pencegat Patriot milik militer Amerika Serikat telah menghabiskan sekitar 65 persen dari total persediaan sejak Februari hingga Juli 2026. Lonjakan penggunaan senjata pertahanan tersebut dipicu oleh penyesuaian taktik serangan drone dan rudal Iran di Timur Tengah.

Perubahan pola serangan militer Iran membuat pasukan Amerika Serikat harus menembakkan lebih banyak interceptor Patriot yang kian terbatas. Laporan Reuters mencatat bahwa persediaan yang tersisa saat ini diperkirakan kurang dari 850 unit interceptor.

Sistem Patriot varian PAC-3 MSE yang bertugas membedil rudal balistik dipatok seharga US$4 hingga US$5 juta per unit. Pentagon kini menghadapi dilema strategis karena pengerahan sistem pertahanan tersebut menguras stok nasional dengan sangat cepat.

Gelombang serangan Iran yang menyasar tiga pangkalan Amerika Serikat di Yordania menggunakan pola manuver mendadak guna melumpuhkan sistem pertahanan. Serangan paling mematikan terjadi pada 17 Juli 2026 di pangkalan Muwaffaq Salti, Yordania, yang menewaskan tiga prajurit Amerika Serikat akibat satu rudal balistik menembus fasilitas tempat tinggal.

Terkait ancaman rudal yang meloloskan diri dari benteng pertahanan, pejabat senior pemerintah memberikan komentarnya mengenai situasi tersebut.

"Hampir seluruh rudal berhasil ditembak jatuh, tetapi satu rudal berhasil lolos," kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.

Krisis amunisi ini meluas hingga ke persediaan senjata serang jarak jauh. Angkatan Darat Amerika Serikat dilaporkan hampir menguras seluruh stok rudal presisi Army Tactical Missile Systems (ATACMS) dan Precision Strike Missiles (PrSM) selama lima bulan pertempuran.

Penurunan stok senjata tersebut berpotensi mengganggu pasokan militer bagi negara mitra seperti Ukraina yang mengandalkan ATACMS dan Patriot untuk menghadapi ancaman Rusia. Sementara itu, pihak eksekutif Amerika Serikat menegaskan bahwa kapasitas logistik militer negara masih berada dalam kondisi aman.

Di tengah laporan penurunan amunisi, pihak istana kepresidenan membantah adanya ancaman kelangkaan persenjataan militer.

Presiden Donald Trump mengatakan AS memiliki lebih banyak amunisi dibandingkan negara lain dan menyebut produksi persenjataan Amerika saat ini terus meningkat.

Pemerintah Amerika Serikat kini terus mendorong industri pertahanan domestik untuk mempercepat peningkatan kapasitas produksi guna mengisi kembali cadangan amunisi pertahanan udara nasional.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author