Status Gunung Anak Krakatau Naik Menjadi Level III Siaga

Share

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menaikkan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga), sehingga memicu dikeluarkannya imbauan kewaspadaan bagi seluruh pengguna jasa pelayaran dan masyarakat pesisir pantai, seperti dilansir dari Detikcom.

Otoritas keselamatan pelayaran langsung mengeluarkan instruksi tegas kepada seluruh armada laut yang melintas di kawasan perairan tersebut demi mengantisipasi dampak buruk dari peningkatan aktivitas vulkanik. Pihak syahbandar meminta seluruh pihak terkait untuk memprioritaskan keselamatan navigasi kapal.

"Sehubungan dengan peningkatan status aktivitas Gunung Anak Krakatau di Perairan Selat Sunda menjadi Level III (Siaga) berdasarkan informasi resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), dengan ini disampaikan kepada seluruh nakhoda, pemilik/pengusaha kapal, perusahaan pelayaran, agen kapal, serta seluruh pengguna jasa angkutan laut yang melaksanakan pelayaran di perairan Selat Sunda agar meningkatkan kewaspadaan demi keselamatan pelayaran," kata Kepala Kantor KSOP Kelas I Banten Raden Yogie Nugraha, dalam keterangannya, Sabtu (4/7/2026).

Keputusan menaikkan status ini diambil setelah pihak berwenang melakukan serangkaian pengamatan intensif pada sistem gunung api tersebut. Evaluasi visual dan instrumental menunjukkan adanya pergerakan magma yang berpotensi memicu bahaya di sekitar kawah.

"Peningkatan aktivitas ini menunjukkan adanya suplai magma ke permukaan, sehingga masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati kawah aktif dalam radius yang telah direkomendasikan," kata Lana Saria selaku Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi dilansir Antara, Jumat (3/7).

Langkah antisipasi juga segera disosialisasikan oleh pemerintah daerah setempat kepada warga yang tinggal di sepanjang garis pantai. Pihak penanggulangan bencana daerah memastikan bahwa kondisi di lapangan masih terpantau kondusif meskipun kewaspadaan tetap ditingkatkan.

"Kita sudah menyampaikan peringatan waspada erupsi Gunung Anak Krakatau kepada masyarakat, aparatur kecamatan hingga desa," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Strategi BPBD Pandeglang Acep Firmansyah di Pandeglang, dilansir Antara, Sabtu (4/7/2026).

Masyarakat setempat diimbau untuk mematuhi rekomendasi jarak aman sejauh 5 kilometer dari pusat aktivitas vulkanik demi menghindari lontaran material berbahaya. Situasi ekonomi dan pelayanan publik di wilayah pesisir Pandeglang dilaporkan masih berjalan dengan normal.

"Kami minta nelayan, wisatawan, dan warga agar tidak mendekati kawasan GAK, karena khawatir terdampak bebatuan pijar. Petugas merekomendasikan radius 5 kilometer dari gunung," ucap Acep.

Sejumlah warga setempat mengaku tetap memilih bertahan dan melanjutkan rutinitas harian mereka karena faktor pengalaman menghadapi situasi serupa pada tahun-tahun sebelumnya. Kendati demikian, bayang-bayang bencana masa lalu tetap membuat mereka tetap berhati-hati.

"Kami tetap tenang, namun tetap waspada, serta jangan sampai terulang kembali tsunami 2018 hingga ratusan orang meninggal dan ribuan orang mengungsi," kata Suherman, warga Labuan Pandeglang.

Di sisi lain, kelompok nelayan di Kabupaten Pandeglang dipastikan tetap melaut mencari ikan demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Organisasi nelayan setempat mengonfirmasi belum ada instruksi resmi untuk menghentikan operasional pelayaran tangkap ikan.

"Nelayan mah biasa saja, tetap beraktivitas, tidak ada kendala," kata Wakil Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Ranting Labuan, Jumami, saat dimintai konfirmasi wartawan, Minggu (5/7/2026).

Perwakilan nelayan menegaskan bahwa mereka akan tetap mencari nafkah selama kondisi alam dinilai masih memungkinkan untuk diselami. Masalah pemenuhan kebutuhan pokok menjadi alasan utama para nelayan tetap melaut di tengah status siaga gunung api tersebut.

"Yang jelas tetap hati-hati karena ada imbauan, tetapi semua tetap melaut," imbuhnya.

Jumami kemudian mempertanyakan kepastian jaminan pemenuhan kebutuhan hidup jika ada larangan resmi yang membatasi aktivitas ekonomi mereka di laut.

"Kalau misalnya dilarang melaut, yang menjamin kehidupan nelayan siapa?" ucapnya.

Kondisi psikologis para nelayan disebut telah beradaptasi dengan siklus erupsi tahunan yang terjadi di Selat Sunda, sehingga kekhawatiran yang muncul tidak sampai menghentikan aktivitas melaut mereka.

"Kekhawatiran tetap ada. Tapi erupsi Anak Krakatau bukan baru kali ini, dari dulu juga sudah beberapa kali terjadi, jadi nelayan sudah terbiasa," katanya.

Selain faktor status gunung, para nelayan saat ini juga dihadapkan pada penurunan volume hasil tangkapan laut selama beberapa bulan terakhir.

"Keluhan sementara justru lagi paceklik, itu yang sekarang dirasakan nelayan. Penurunannya sekitar 5 persen sampai hampir 10 persen," ujarnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author