Starbucks Korea Pecat CEO Usai Promosi Tank Day Menuai Kecaman Publik
Promosi bertajuk 'Tank Day' yang digelar oleh Starbucks Korea memicu gelombang kecaman besar di Korea Selatan. Dampak dari kontroversi tersebut, CEO Starbucks Korea, Sohn Jeong-hyun, resmi dicopot dari jabatannya.
Sanksi tegas ini diambil setelah kampanye pemasaran tersebut dinilai menyinggung tragedi berdarah Pemberontakan Gwangju 1980, seperti dikutip dari Detik Food. Polemik ini bermula pada 18 Mei 2026, yang bertepatan dengan hari peringatan Gerakan Demokratisasi Gwangju.
Pada momen tersebut, Starbucks Korea mengadakan promo potongan harga untuk lini produk tumbler bernama 'Tank'. Kampanye ini juga menyertakan slogan pendukung 'Tak! on the desk'.
Masyarakat Korea Selatan menilai pemilihan kata 'tank' beserta slogan tersebut sangat tidak sensitif terhadap sejarah kelam negara. Istilah 'tank' diidentifikasi kerap digunakan oleh komunitas sayap kanan sebagai julukan mantan Presiden Chun Doo-hwan.
Sosok Chun Doo-hwan dikenal atas kebijakan darurat militer pada 1979 dan tindakan represif terhadap demonstran di Gwangju pada Mei 1980. Kala itu, aparat militer mengerahkan tank dan menembaki warga sipil hingga mengakibatkan ratusan korban jiwa dan luka.
Di sisi lain, slogan 'Tak! on the desk' dikritik karena dianggap merujuk pada insiden kematian aktivis mahasiswa Park Jong-cheol pada 1987. Saat itu, pihak kepolisian memberikan keterangan palsu bahwa korban wafat setelah kepalanya terbentur meja hingga berbunyi 'tak'.
Kemarahan masyarakat langsung meluas di berbagai platform media sosial. Banyak netizen menunjukkan aksi membuang produk merchandise hingga menghapus akun keanggotaan Starbucks sebagai bentuk pemboikotan.
Gelombang protes ini turut berdampak pada melemahnya saham Shinsegae Group selaku pemilik saham mayoritas Starbucks Korea. Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, ikut memberikan kritik tajam melalui media sosial X.
Lee Jae-myung menuntut pihak perusahaan untuk menunjukkan pertanggungjawaban moral, administratif, hukum, serta politik yang sesuai atas insiden ini. Merespons situasi tersebut, Shinsegae Group langsung memberhentikan Sohn Jeong-hyun pada hari yang sama.
Chairman Shinsegae Group, Chung Yong-jin, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada publik atas kelalaian manajemen.
"Starbucks Korea memulai kampanye pemasaran yang tidak pantas dan seharusnya tidak pernah terjadi," ujarnya.
Chung Yong-jin menambahkan bahwa peristiwa ini merupakan kesalahan fatal karena mengabaikan luka sejarah bangsa.
"kesalahan yang tidak bisa dimaafkan karena meremehkan rasa sakit dan pengorbanan mereka yang berjuang demi demokrasi Korea Selatan." kata Chung Yong-jin.
Sikap penyesalan juga disampaikan oleh kantor pusat Starbucks yang berada di Seattle, Amerika Serikat. Manajemen pusat menyatakan penyesalan mendalam atas strategi pemasaran yang tidak dapat diterima tersebut dan memastikan program promosi telah dihentikan.
Pihak korporasi kini berkomitmen melakukan investigasi menyeluruh. Starbucks juga akan memperketat sistem kurasi kampanye serta pelatihan bagi karyawan agar kejadian serupa tidak terulang.