Sistem Deteksi Dini Temukan 73 Titik Hotspot di Kalimantan Selatan
Sistem pendeteksi dini kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berhasil mendeteksi sebanyak 73 titik panas atau hotspot di Kalimantan Selatan, sebagai upaya antisipasi potensi kebakaran yang dapat terjadi.
Data tersebut diperoleh melalui Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SIPONGI) yang menggunakan satelit NASA-NOAA20 pada 12 Agustus 2026, dengan tingkat kepercayaan kategori medium, dilansir dari Detik Travel.
Dari jumlah 73 hotspot, sebanyak 14 titik berada di dalam areal Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), termasuk di wilayah PT Inhutani I Unit Pelaihari dan PT Dwima Intiga.
Kepala Balai Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL) Wilayah XI Banjarbaru Kementerian Kehutanan, Wahyu Nurhidayat, menyatakan bahwa deteksi hotspot adalah instrumen penting untuk peringatan dini agar kebakaran bisa ditangani sebelum meluas.
"Setiap titik panas yang teridentifikasi di dalam areal kerja PBPH perlu segera diverifikasi di lapangan. Informasi hotspot merupakan bagian dari sistem peringatan dini agar potensi kebakaran dapat diketahui dan ditangani sejak tahap awal," ujar Wahyu.
Wahyu menegaskan bahwa keberadaan hotspot bukan berarti kebakaran sudah terjadi melainkan indikasi adanya anomali suhu yang harus diperiksa langsung.
"Prinsipnya, jangan menunggu api membesar. Ketika terdapat informasi hotspot di dalam atau di sekitar areal kerja, segera lakukan pengecekan. Jika ditemukan indikasi kebakaran, lakukan penanganan awal dan berkoordinasi dengan pihak terkait sesuai ketentuan," tegas Wahyu.
Balai Pengelolaan Hutan Lestari Wilayah XI Banjarbaru juga mendorong pemegang PBPH meningkatkan kesiapsiagaan dengan menguatkan patroli, kesiapan personel, dan sarana prasarana pengendalian karhutla.
Setiap informasi hotspot harus segera ditindaklanjuti dengan pengecekan lapangan untuk membedakan anomali suhu dan kejadian kebakaran sekaligus mempercepat respons apabila ditemukan api.