Sistem Baru UE Picu Keterlambatan Penerbangan di Bandara Eropa
Penerapan sistem baru Entry/Exit System (EES) di Uni Eropa serta tingginya volume lalu lintas udara memicu lonjakan kepadatan dan memperpanjang antrean pemeriksaan perbatasan di sejumlah bandara Benua Eropa pada Minggu (28/6/2026). Kondisi tersebut mewajibkan pengambilan data biometrik bagi pelancong dari luar Uni Eropa sehingga durasi pemeriksaan menjadi lebih lama, seperti dilansir dari Detik Travel dari hasil riset AirAdvisor. Berdasarkan data riset tersebut, Yunani dan Spanyol menjadi negara yang paling sering mengalami keterlambatan penerbangan, sementara Bandara Milan Bergamo di Italia menempati posisi teratas dengan potensi penundaan tertinggi.
Keterbatasan infrastruktur di beberapa wilayah menjadi penyebab utama hambatan pelayanan ini terjadi.
"Bandara-bandara itu jauh lebih kecil dibandingkan bandara di kota besar dan sangat populer saat musim panas. Ketika terjadi gangguan besar, dampaknya akan menjalar ke penerbangan lainnya," ujar Anton Radchenko, CEO AirAdvisor. Menurutnya, lonjakan pelancong yang tidak sebanding dengan kapasitas bandara di pulau-pulau Yunani memperparah situasi penundaan tersebut selama musim liburan.
"Saat penundaan mulai menumpuk di bandara, efek domino bisa terjadi sehingga semakin banyak penerbangan yang mundur, terutama pada periode sibuk," sambung Anton Radchenko, CEO AirAdvisor. Secara berurutan, posisi tiga teratas bandara di Eropa yang paling berpotensi mengalami keterlambatan penerbangan versi AirAdvisor ditempati oleh Milan Bergamo di Italia, Nice Cote d'Azur di Prancis, dan Kefalonia di Yunani.