Sikap Tepat Orang Tua Saat Anak Mulai Berkata Kasar
Kemunculan ucapan kurang pantas dari lisan anak kerap memicu kepanikan orang tua. Respons spontan berupa emosi atau larangan keras justru berisiko membuat anak semakin bingung, seperti dilansir dari HaiBunda.
Penggunaan kata-kata tersebut umumnya terjadi tanpa pemahaman makna secara utuh. Psikolog klinis dari Harvard Medical School, Jacqueline Sperling, PhD, menjelaskan bahwa paparan kata kasar pada anak tergolong sulit dihindari sepenuhnya.
Riset University of Illinois Press tahun 2013 mencatat anak usia 8 tahun telah mengenal sekitar 54 kata tabu. Jenis kata yang dipakai biasanya bergeser menjadi umpatan dewasa saat menginjak usia 11 hingga 12 tahun.
Penguasaan kosakata yang makin luas membuat anak menyadari kekuatan bahasa. Beberapa faktor pendorong kebiasaan ini antara lain:
Anak memiliki rasa ingin tahu tinggi terhadap frasa baru yang belum pernah mereka dengar. Di sisi lain, proses meniru terjadi dari tayangan media, lingkungan, maupun ucapan orang sekitar tanpa memodelkan artinya.
Anak di bawah usia 5 atau 6 tahun juga belum mampu menyaring ucapan secara matang. Kondisi ini membuat mereka refleks menyampaikan kata yang teringat di kepala.
Reaksi terkejut yang berlebihan dari orang tua kerap dianggap sebagai bentuk perhatian menarik. Penulis buku parenting, Alyson Schafer, menegaskan situasi tersebut kerap dimanfaatkan anak untuk menguji batasan serta menunjukkan kendali.
Alasan lain mencakup dorongan mencari perhatian kawan sebaya atau sekadar melepaskan tekanan emosi sehabis beraktivitas seharian di sekolah.
Langkah Menghadapi Anak yang Berkata Kasar
Penanganan yang tepat membantu anak belajar mengelola emosi sekaligus memahami norma berkomunikasi. Langkah-langkah yang dapat diterapkan meliputi:
Memberi jeda sebelum merespons agar tidak memberi perhatian berlebihan pada perilaku negatif. Selanjutnya, ajukan pertanyaan lembut untuk mengetahui tingkat pemahaman serta emosi pemicunya.
Bantu anak mengenali emosi dan berikan pilihan kosakata pengganti yang sopan. Jelaskan secara tegas bahwa ucapan kasar dapat menyakiti perasaan orang lain.
Latih empati anak dengan menanyakan dampak ucapan tersebut pada orang lain. Berikan pujian saat mereka berhasil menunjukkan kepedulian atau perilaku positif.
Gunakan konsep sederhana seperti benar atau salah saat memberikan batasan. Tetapkan aturan tegas tanpa kata kasar yang berlaku mutlak bagi seluruh anggota keluarga di rumah.