Siber Polda Jateng Bongkar Komplotan Scammer Internasional di Sukoharjo

Share

Jaringan penipuan online lintas negara yang berbasis di Solo Baru, Sukoharjo, berhasil diungkap oleh pihak kepolisian. Komplotan scammer internasional yang melibatkan mantan artis Fabiola Elizabeth ini diketahui membidik warga negara asing sebagai korbannya.

Direktur Reserse Siber Polda Jawa Tengah (Jateng), Kombes Himawan Sutanto Saragih, sebelumnya menyampaikan bahwa kelompok ini memanfaatkan platform digital dalam melancarkan aksinya. Para pelaku mengincar korban melalui media sosial hingga aplikasi kencan.

Meskipun operasi komplotan ini menyasar warga Amerika Serikat, masyarakat Indonesia diingatkan untuk tidak lengah. Keberadaan jaringan yang tidak mengincar warga lokal ini dinilai bukan menjadi alasan bagi warga negara Indonesia (WNI) untuk merasa aman dari ancaman penipuan siber.

Dilansir dari Detik iNET, pakar keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, menjelaskan bahwa skema kerja seperti ini merupakan hal yang lumrah dalam jaringan penipuan online internasional.

Menurut Alfons, pelaku kejahatan siber lintas negara cenderung beroperasi dengan mencari korban yang berada di luar yurisdiksi tempat mereka tinggal demi menghindari pelacakan hukum.

"Mereka cenderung akan menghindari melakukan penipuan dari yurisdiksi negara korbannya. Jadi kalau mau menipu orang Indonesia lakukan dari Kamboja, menipu orang Amerika, Vietnam, China atau Eropa lakukan dari Indonesia," kata Alfons kepada detikINET, Kamis (4/6/2026).

Praktik penipuan lintas negara sengaja dirancang untuk menghindari jerat hukum pidana di negara asal korban. Kendati demikian, kelompok yang dipimpin oleh Fabiola ini pada akhirnya tetap dapat diringkus oleh jajaran Polri.

Kasus ini menjadi peringatan bahwa tidak ada pengguna internet yang sepenuhnya kebal dari target penipuan siber. Saat warga asing menjadi sasaran pelaku di Indonesia, warga domestik justru kerap menjadi target pelaku yang berada di Kamboja atau negara lain.

Sebagai langkah antisipasi, masyarakat diimbau untuk selalu menjaga kewaspadaan dan tidak mudah memercayai berbagai penawaran menggiurkan yang beredar di dunia maya.

"Simpel, apapun penawaran yang too good to be true itu, jangan dipercaya. Tawaran apapun yang memberikan keuntungan besar, lebih dari bunga bank, jangan dipercaya," kata Alfons.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author