Umat Islam Mulai Sholat Rebo Wekasan 11 Agustus 2026 Malam

Share

Umat Islam di berbagai daerah Indonesia yang hendak melaksanakan ibadah penolak bala pada Rebo Wekasan 2026 dapat mulai mendirikan sholat sunnah sejak Selasa, 11 Agustus 2026 malam usai waktu Magrib. Ibadah tahunan menjelang akhir bulan Safar 1448 Hijriah ini difokuskan sebagai sarana mendekatkan diri dan memohon perlindungan dari mara bahaya.

Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 terbitan Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, bulan Safar 1448 Hijriah berakhir pada Kamis, 13 Agustus 2026. Dengan demikian, Rabu terakhir bulan Safar atau Rebo Wekasan jatuh pada Rabu, 12 Agustus 2026 atau 28 Safar 1448 Hijriah. Karena pergantian hari dalam kalender Hijriah dimulai saat matahari terbenam, waktu pelaksanaan ibadah sholat sudah dapat dimulai pada Selasa malam atau pada Rabu pagi.

Mengenai hukum pelaksanaannya, para ulama menegaskan bahwa sholat khusus Rebo Wekasan tidak memiliki dasar syariat jika diniatkan secara khusus. Hasil Musyawarah Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Tengah di Magelang pada 1978 serta Muktamar NU ke-25 di Surabaya pada 1971 memutuskan ibadah ini haram apabila diniatkan sebagai sholat khusus Rebo Wekasan. Namun, ibadah tersebut diperbolehkan jika dijalankan sebagai sholat sunnah mutlak atau sholat hajat.

Pelaksanaan sholat sunnah mutlak dua rakaat ini dapat diawali dengan merapalkan niat ibadah sunnah sebagaimana diatur dalam literatur panduan ibadah.

"Saya niat sholat sunnah dua rakaat karena Allah ta'ala," tulis Saiful Hadi el-Sutha dalam Buku Panduan Sholat Lengkap (Wajib & Sunah).

Sementara itu, penelitian Umma Farida dalam Jurnal THEOLOGIA Vol 30 No 2 (2019) mencatat tata cara sholat Rebo Wekasan empat rakaat dengan dua kali salam berdasarkan kitab Kanz Al-Najah Wa Al-Surur karya Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds Al-Maki. Setiap rakaat dianjurkan membaca Surah Al-Fatihah, dilanjutkan Al-Kautsar 17 kali, Al-Ikhlas 5 kali, serta Al-Falaq dan An-Nas masing-masing satu kali, lalu ditutup dengan doa.

Pelaksanaan tradisi ini merujuk pada literatur keislaman klasik yang meyakini adanya penurunan rintangan dan cobaan pada hari tersebut.

"Sesungguhnya dalam setiap tahun diturunkan 320.000 bencana (bala) dan semuanya diturunkan pada hari Rabu akhir dari bulan Safar, maka hari itu merupakan hari yang paling berat dalam setahun," tulis Syeikh Muhammad bin Khathiruddin Al-‘Atthar dalam kitab Al-Jawahir Al-Khams.

Selain mendirikan sholat sunnah mutlak, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak permohonan keselamatan melalui bacaan doa khusus penolak bala.

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan nama-nama-Mu yang indah, dengan kalimat-kalimat-Mu yang sempurna, dan dengan kemuliaan Nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar Engkau menjaga dan menyelamatkan-ku dari cobaan-Mu. Wahai Zat yang menolak bala, yang melapangkan kesusahan, dan yang mengangkat kesedihan, jauhkan-lah dariku segala hal yang telah ditetapkan atas diriku pada tahun ini berupa duka atau kesulitan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad, keluarganya, serta para sahabatnya," demikian lafaz doa pendek Rebo Wekasan seperti dilansir Cahaya Kompas.

Anjuran untuk memohon perlindungan dari keburukan pada awal dan akhir bulan Safar ini turut ditegaskan oleh ulama dalam karya keagamaannya.

"Barang siapa yang menginginkan keselamatan serta perlindungan dari bala tersebut, hendaknya berdoa pada hari pertama bulan Safar, dan juga di Rabu terakhir bulan itu dengan doa ini. Siapa saja yang membacanya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghindarkan dirinya dari keburukan bala tersebut," tulis Syekh Abdul Hamid dalam kitab Kanzun Najah wa as-Surur.

Tradisi Rebo Wekasan telah berlangsung secara turun-temurun di tengah masyarakat Jawa, Sunda, Madura, dan beberapa wilayah Indonesia lainnya. Selain sholat sunnah dan doa bersama, masyarakat mengisi momentum penutup bulan Safar ini dengan selamatan serta bersedekah.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author