Sesar Aktif Picu Rangkaian Gempa Dangkal di Sorong

Share

Aktivitas sesar aktif di wilayah laut memicu rangkaian gempa bumi tektonik dangkal yang mengguncang wilayah Kota Sorong, Papua Barat Daya, dengan kekuatan tertinggi bermagnitudo 4,5 pada Selasa, 7 Juli 2026 pukul 10.23 WIT. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat pusat gempa bermagnitudo 4,5 tersebut berada di laut pada kedalaman 10 kilometer, berjarak 34 kilometer arah timur laut Kota Sorong dengan koordinat 0,66 Lintang Selatan dan 131,50 Bujur Timur. Guncangan ini dirasakan nyata oleh masyarakat di Kota Sorong dengan skala intensitas IV MMI, di mana benda-benda ringan yang digantung bergoyang dan jendela kaca bergetar, namun tidak menyebabkan kerusakan.

Sebelumnya, wilayah Kabupaten Sorong juga diguncang dua gempa berturut-turut pada Senin, 6 Juli 2026, masing-masing bermagnitudo 3,8 pada pukul 17.51 WIB dengan kedalaman 8 kilometer dan bermagnitudo 3,7 pada pukul 19.51 WIT dengan kedalaman 4 kilometer.

Pihak BMKG melaporkan bahwa dalam sepekan terakhir, telah terjadi 16 kali aktivitas gempa signifikan yang dirasakan oleh masyarakat di berbagai wilayah Indonesia dengan variasi magnitudo serta kedalaman yang beragam. "Gempa dirasakan Magnitudo: 4,5 pada Selasa, 07 Juli 2026 08:23:53 WIB", tulis BMKG pada keterangan rilisnya.

Hingga saat ini, belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa ataupun kerusakan infrastruktur bangunan akibat rentetan guncangan tersebut, dan BMKG menyatakan pemantauan ketat terus berjalan. "Berdasarkan hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini TIDAK BERPOTENSI TSUNAMI," demikian keterangan resmi BMKG yang diterima, Senin malam.

Otoritas meteorologi mengonfirmasi bahwa karakteristik dari fenomena tektonik yang terjadi di Sorong murni merupakan jenis gempa bumi dangkal. "Gempa (UPDATE) Mag:3.8, 06-Jul-26 17:51:28 WIB, Lok:0.66 LS, 131.57 BT (Pusat gempa berada di laut 34 km Timur Laut Kota Sorong), Kedlmn:8 Km Dirasakan (MMI) II-III Sorong," tulis BMKG, Senin (6/7/2026). Kepala Balai Besar MKG Wilayah V Jayapura, Yustus Rumakiek, memaparkan analisis teknis mengenai penyebab serta sifat dari pergerakan lempeng yang memicu kepanikan warga di dalam ruangan tersebut.

"With dan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas sesar aktif," ujar Yustus dalam keterangan tertulisnya.

Simulasi numerik yang dilakukan oleh tim stasiun pemantau memastikan bahwa gangguan seismik lokal ini tidak membawa risiko kemunculan gelombang laut sekunder yang berbahaya. "Hasil pemodelan BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," sebut Yustus. BMKG mengimbau penduduk setempat untuk mengabaikan informasi yang tidak terverifikasi serta memeriksa kelayakan struktur bangunan sebelum masuk kembali ke tempat tinggal mereka.

"Warga harus memeriksa kestabilan struktur bangunan tempat tinggal sebelum memutuskan kembali ke dalam rumah," tandas Yustus.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author