Serangan Ukraina ke Kilang Minyak Rusia Picu Kelangkaan Bensin
Infrastruktur energi di seluruh Rusia, termasuk wilayah Krimea, mengalami kerusakan parah akibat rentetan serangan drone jarak jauh yang dilancarkan oleh angkatan bersenjata Ukraina selama beberapa bulan terakhir hingga Juni 2026.
Aksi militer tersebut melumpuhkan jalur logistik di wilayah pendudukan serta merusak berbagai kilang minyak strategis milik Kremlin. Dilansir dari Detikcom melalui laporan Reuters, serangan sepanjang Juni saja telah merusak kilang minyak di Moskow, Nizhnekamsk, Tyumen, dan Volgograd, menyusul 16 kilang bensin lain yang menjadi target pada bulan sebelumnya.
Dampak dari gempuran tersebut membuat produksi bensin Rusia merosot hingga 25 persen. Saat ini, Rusia dilaporkan hanya mampu memproduksi 85 ribu ton bensin per hari, sementara kebutuhan konsumsi domestik pada musim panas melonjak mencapai 110 ribu ton per hari.
Lembaga pemikir asal Amerika Serikat, Energy Intelligence, menilai situasi ini dapat menyeret Kremlin ke dalam pusaran krisis energi yang masif.
"Musim panas ini Rusia tengah menuju krisis bahan bakar yang mungkin menjadi yang terburuk dalam sejarahnya," kata para analis lembaga pemikir Amerika Serikat, Energy Intelligence.
Presiden Rusia Vladimir Putin akhirnya memberikan respons resmi mengenai situasi darurat energi yang melanda negaranya tersebut pada tanggal 28 Juni.
"Tingkat tertentu kekurangan bahan bakar. Memang ada kerusakan," ujarnya dalam wawancara dengan televisi pemerintah Rusia.
Kendati demikian, Putin menegaskan bahwa kendala operasional yang dihadapi oleh sejumlah fasilitas energi tersebut akan segera teratasi.
"Namun semua fasilitas yang rusak diperbaiki dengan cukup cepat, dan persoalan yang muncul tidak bersifat kritis," kata Putin.
Pernyataan terbuka dari orang nomor satu di Rusia tersebut memicu tanggapan dari pengamat politik internasional yang melihat adanya tekanan besar pada pemerintah.
"Putin terpaksa mengakui secara terbuka bahwa masalah ini memang ada," ujar Margarita Zavadskaya, ilmuwan politik di Finnish Institute of International Affairs.
Zavadskaya menambahkan bahwa pengakuan tersebut sekaligus mengonfirmasi efektivitas taktik militer yang diadopsi oleh pihak lawan.
"Yang lebih penting lagi, dia juga menyebut penyebabnya—serangan drone Ukraina," kata Zavadskaya dalam wawancara dengan DW.
Berdasarkan data portal ekonomi RBC, pembatasan penjualan bahan bakar kini telah diberlakukan di 40 wilayah Rusia. Sementara itu, portal berita Rusia Wjorstka menyebutkan jumlah wilayah terdampak mencapai 78 wilayah, yang ditandai dengan antrean panjang di berbagai stasiun pengisian bahan bakar.
Meningkatnya efektivitas serangan udara Ukraina ini dinilai terjadi karena adanya peningkatan kapabilitas teknologi militer yang signifikan dari tahun sebelumnya.
"Perbedaannya tahun ini adalah Ukraina secara signifikan meningkatkan jumlah maupun kualitas drone mereka. Jangkauan drone diperluas, dan dalam beberapa bulan terakhir mereka juga secara sistematis berupaya mendeteksi serta menghancurkan sistem pertahanan udara Rusia," ujarnya kepada DW.
Analis dari Institute for the Study of War (ISW) di Washington, D.C. tersebut juga menjelaskan bahwa perluasan radius serangan Ukraina menjadi strategi baru untuk mengacaukan rantai pasokan militer Rusia di garis depan.
"Ada laporan bahwa prajurit di sekitar Huljajpole—di sebelah timur dan barat wilayah Zaporizhzhia—mengalami kekurangan bahan bakar, amunisi, dan juga berbagai kebutuhan logistik lainnya," ujar Harward.
Kondisi serupa juga mulai terjadi di wilayah Donetsk di mana pasokan amunisi artileri dan drone pengintai terus mengalami kendala. Harward memperingatkan bahwa serangan lanjutan terhadap Jembatan Krimea dapat memutus jalur logistik vital bagi warga sipil dan militer.
Kerusakan permanen Jembatan Kriema akan "benar-benar akan memutus salah satu urat nadi utama yang dimiliki Rusia," jelasnya.
Sejak 26 Juni, otoritas Krimea bentukan Moskow telah memberlakukan status darurat di penjuru semenanjung dan ibu kota Sevastopol akibat kelangkaan bensin dan pangan. Strategi penekanan ekonomi dan logistik ini juga dikonfirmasi oleh para sejarawan barat.
"Menjaga pasokan di sana—bahan bakar, energy, air, dan seluruh kebutuhan penting lainnya—sangat sulit. Karena itu, mereka berharap tekanan terhadap Krimea akan memaksa Putin memulai perundingan damai yang serius, tentu dengan syarat mereka sendiri," ujar profesor emeritus University College London (UCL) itu kepada DW, menjelaskan strategi Ukraina.
Di sisi lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebutkan bahwa rangkaian serangan terhadap depo bahan bakar ini merupakan bentuk sanksi jangka panjang agar Moskow bersedia kembali ke meja perundingan. Namun, Galeotti mengingatkan adanya risiko eskalasi militer yang tinggi jika Rusia merasa terdesak.
"Penilaian terhadap risiko inilah yang kini membentuk cara pandang di Kyiv," katanya.
Galeotti beranggapan bahwa spekulasi perebutan kembali Krimea secara militer oleh Ukraina masih berupa tekanan psikologis, mengingat hilangnya wilayah tersebut akan menjadi pukulan telak bagi Putin.
"Saya kira itu bukan hanya sangat sulit diwujudkan, tetapi juga akan menciptakan situasi yang memaksa Putin merespons dengan langkah-langkah eskalatif. Kehilangan Krimea akan menjadi penghinaan besar baginya, karena wilayah itu dipandang sebagai 'permata mahkota' dari seluruh penaklukannya." Karena itu, dari sudut pandang Ukraina, "tujuannya lebih kepada memberi tekanan ketimbang benar-benar merebut wilayah tersebut," kata Galeotti.
Galeotti menguraikan bahwa Kremlin masih memiliki opsi militer seperti mobilisasi personel cadangan tambahan atau pengiriman 150 ribu wajib militer, meskipun langkah tersebut akan sangat tidak populer secara politik.
"Dia bisa memobilisasi ratusan ribu personel cadangan tambahan, meski langkah itu akan sangat tidak populer secara politik dan berpotensi memicu keresahan. Dia juga masih memiliki sekitar 150 ribu wajib militer yang sejauh ini belum dikirim ke medan perang—dan itu pun akan sangat tidak populer. Jika mempertimbangkan kemungkinan lain, ada pula skenario terburuk, yang menurut saya sangat kecil kemungkinannya, yaitu penggunaan senjata nuklir taktis.
Pilihan memang ada, tetapi semuanya pada akhirnya akan merugikan dirinya sendiri. Pertanyaan utamanya adalah seberapa jauh Putin bersedia melangkah."
Hingga kini, ekonomi Rusia dinilai belum berada di ambang kehancuran total dan masyarakatnya belum menunjukkan tanda-tanda pemberontakan massal.
"Dalam satu tahun lagi, kerusakan terhadap ekonomi Rusia akan terlalu besar," prediksinya.
Melalui analisis tersebut, Rusia diperkirakan akan menghadapi kesulitan besar untuk mempertahankan skala perang yang sama dalam jangka panjang.
"setidaknya perlu mulai memikirkan alternatif lain," kata Galeotti.