Serangan Rudal Rusia di Kyiv Tewaskan 27 Orang
Sebanyak 27 orang dilaporkan tewas akibat serangan rudal dan pesawat tanpa awak (drone) tentara Rusia yang menghujani kawasan pemukiman di pusat kota Kyiv, Ukraina, sejak Rabu malam hingga Kamis dini hari. Aksi militer Moskow tersebut menghancurkan sejumlah gedung apartemen serta menyebabkan 91 orang lainnya luka-luka, sebagaimana dilansir dari Detikcom melalui laporan AFP pada Jumat (3/7/2026). Jumlah korban jiwa tersebut mengalami kenaikan dari laporan sebelumnya yang mencatat 13 kematian dan 86 orang terluka akibat rentetan ledakan di ibu kota Ukraina.
Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, memberikan pernyataan mengenai situasi darurat yang melanda wilayahnya pascaserangan hebat tersebut.
"serangan paling besar musuh terhadap ibu kota" kata Vitali Klitschko, Walikota Kyiv. Sebelum insiden berdarah ini terjadi, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sempat memperingatkan bahwa pihak Moskow memang tengah mempersiapkan operasi militer berskala besar.
"pasti" ujar Volodymyr Zelensky, Presiden Ukraina. Zelensky menyampaikan penegasan tersebut saat memeriksa langsung kondisi blok apartemen yang sebagian telah hancur, sembari mendesak Amerika Serikat agar memberikan lisensi produksi rudal pertahanan udara Patriot.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres melayangkan kecaman keras atas eskalasi serangan Rusia dan mendesak dilakukannya gencatan senjata segera. "Serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil di mana pun terjadi merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional dan harus segera dihentikan," kata Stephane Dujarric, Juru Bicara Sekjen PBB. Merespons situasi di Ukraina, diplomat tertinggi Uni Eropa kini tengah mengusulkan sanksi baru terhadap Moskow, meski Rusia sendiri bersumpah akan terus meningkatkan tekanan terhadap Kyiv.