Serangan Rudal Iran Hancurkan Pangkalan Udara AS di Yordania
Sistem pertahanan udara THAAD milik Amerika Serikat gagal membendung rentetan serangan rudal Iran yang menghantam Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania pada 17 Juli 2026. Hantaman rudal tersebut menewaskan dua prajurit AS, melukai 29 personel, dan menyebabkan satu pimpinan tentara hilang.
Laporan analisis citra satelit yang dihimpun Wall Street Journal dan New York Times menunjukkan kerusakan berat pada kompleks pangkalan militer AS. Bangunan hanggar dilaporkan hancur total serta merusak sejumlah helikopter multiperan UH-60 Black Hawk dan armada drone (UAV) yang terparkir di apron.
Pangkalan Udara Muwaffaq Salti merupakan pusat operasi vital bagi militer AS di kawasan Timur Tengah yang menampung ratusan personel serta puluhan pesawat tempur. Kegagalan sistem pencegat balistik THAAD dalam membendung serangan balistik ini mengejutkan jajaran pejabat pertahanan di Washington.
Intelijen AS mengonfirmasi bahwa pihak Iran mengadaptasi teknologi rudal berkecepatan tinggi dengan kemampuan bermanuver saat melakukan deselerasi mendekati target. Pihak AS menduga Teheran mendapat bantuan teknis pemetaan target dari mitra global seperti Cina atau Rusia.
Merespons kehancuran aset udaranya, Washington mengerahkan jet tempur tambahan F-16 dari Jerman, pesawat siluman F-35 dari Inggris, dan pesawat tanker udara. Eskalasi militer kian memanas setelah Iran secara resmi menarik diri dari nota kesepahaman keamanan kawasan.
Petinggi militer Iran, Mojtaba, menjanjikan "pelajaran yang tidak akan pernah terlupakan" jika AS nekat melanjutkan serangan udara ke wilayah mereka.
Ancaman tersebut disampaikan seiring kesiapan militer di kawasan Timur Tengah menghadapi potensi perang terbuka pasca-runtuhnya kesepakatan gencatan senjata.