Serangan Drone Ukraina Picu Krisis BBM Hebat di Krimea
Krisis bahan bakar minyak (BBM) kini tengah menghantam Rusia yang dikenal sebagai salah satu produsen minyak bumi terbesar di dunia. Dilansir dari Detik Finance, kelangkaan ini dipicu oleh serangan drone Ukraina yang agresif dan tanpa henti ke wilayah pendudukan, menyusul serangan jarak jauh sebelumnya pada kilang-kilang minyak Rusia.
Semenanjung Krimea yang dianeksasi Rusia sejak 2014 menjadi salah satu wilayah dengan dampak paling parah akibat sengketa internasional ini. Dalam beberapa pekan terakhir, kawasan tersebut menghadapi hambatan logistik yang sangat serius, mulai dari tersendatnya distribusi hingga kelangkaan pasokan yang meluas.
Masalah tersebut muncul setelah pasukan Ukraina menggempur jalan raya utama serta jembatan strategis. Jalur transportasi ini menghubungkan Kota Rostov di Rusia selatan menuju Krimea melewati Kota Mariupol yang saat ini dikuasai Rusia.
"Jalan itu pada dasarnya adalah tulang punggung pendudukan Rusia di wilayah selatan," kata Clement Molin, Analis lembaga pemikir Atum Mundi yang berbasis di Prancis, dikutip dari BBC, Kamis (11/6/2026).
Krimea memegang peranan krusial bagi Moskow sejak konflik bersenjata pecah karena berfungsi sebagai pangkalan peluncuran rudal dan drone untuk menggempur Ukraina. Infrastruktur militer di wilayah ini menjadi elemen vital dalam menyokong operasi tempur Rusia.
Selain memiliki nilai strategis bagi militer, Krimea mempunyai arti ekonomi dan sosial yang masif untuk Rusia. Garis pantai yang membentang luas didukung iklim hangat mirip kawasan Mediterania menjadikannya sebagai destinasi wisata musim panas utama bagi warga Rusia.
Molin memaparkan bahwa Ukraina sudah melancarkan sekitar 300 serangan drone sejak awal Mei 2026 yang menyasar truk-truk di jalur logistik vital tersebut. Dari total armada yang diserang, sekitar 30 kendaraan merupakan truk tangki pembawa bahan bakar.
Intensitas gempuran dilaporkan melonjak sangat tajam sepanjang bulan ini. Data dari komandan pasukan drone Ukraina, Robert Brovdi menunjukkan bahwa dampak nyata dari operasi militer tersebut kini mulai terlihat jelas di lapangan.
Brovdi mengungkapkan bahwa arus lalu lintas kargo militer Rusia di jalur logistik itu merosot tajam hingga 71% sepanjang akhir Mei sampai awal Juni 2026. Penurunan masif ini menandakan serangan drone Ukraina berhasil mengacaukan rantai pasok penyokong operasi militer Rusia.
Dampak kelangkaan bahan bakar ini memicu gelombang kekecewaan dari warga lokal serta wisatawan yang kemudian mengeluh di media sosial. Sejumlah rekaman video memperlihatkan antrean kendaraan yang mengular di berbagai SPBU, bahkan warga mengaku harus mengantre hingga 10 jam demi mengisi bahan bakar.
"Sekarang saya berjalan kaki ke tempat kerja. Tentu saja ini kurang nyaman daripada mengemudi, tetapi bukan masalah besar. Yang harus saya lakukan sekarang adalah membeli kuda!" kata seorang penduduk kota Simferopol.
Saat ini, mayoritas SPBU di Krimea menerapkan kebijakan pembatasan ketat dengan kuota maksimal 20 liter (4 galon) BBM per orang menggunakan voucher prabayar. Sementara itu, para turis asal Rusia yang sudah datang sebelum krisis kini terjebak dan kesulitan mendapatkan bensin untuk pulang.
"Sayangnya, tampaknya tidak mungkin untuk sepenuhnya memenuhi permintaan bahan bakar saat ini," kata Kepala Wilayah yang ditunjuk Kremlin, Sergei Aksyonov pada 5 Juni 2026.