oleh

Sebut Dirinya Aktivis Tanpa Angkatan, Syarif Luncurkan Otobiografi

Di tengah pergulatan politik, baik di daerah khususnya nasional, Anggota DPRD DKI Jakarta Syarif memberanikan diri. Tampil dengan sebuah kejutan yang mungkin bisa menjadi refrensi.

Ia menerbitkan otobiografi ”Tangis Tawa Senyum Catatan Aktivis Tanpa Angkatan” di Jakarta, Rabu (14/10) malam.

”Buku ini judulnya banyak orang bertanya maksudnya apa? Maksudnya adalah ketika saya menulis, saya tidak ingin menjadi beban sejarah,” kata alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1996 itu.

Dua mengaku bukan angkatan 1998, angkatan 1990 dan juga bukan angkatan 1995. ”Ketika lulus tahun 1996, saya masih demo supaya menyalurkan aspirasi,” katanya.

Dia tidak ingin menanggung beban sejarah yang saat ini pentolan-pentolan aktivis 1998 menjadi pejabat. ”Karena itu saya ingin menyebut diri saya sebagai aktivis tanpa angkatan,” kata Syarif.

Syarif juga menyinggung mengenai judul bukunya dengan tiga kata sifat yaitu tangis, tawa dan senyum yang menjadi warna perjalanan hidupnya dan diharapkan ke depannya akan diraih ketiganya.

”Ketika saya lahir, kemudian orang tua saya tertawa. Dan di akhir hayat saya harapkan terbalik, orang lain menangis dan saya tersenyum. Di tengah perjalanan itu saya ingin meraih ketiganya,” katanya.

Hadir dalam acara itu, di antaranya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Gerindra Mohamad Taufik dan sebagainya.

Syarif mengatakan buku yang ditulis itu juga mengulas perjalanan hidupnya selama menjadi anggota DPRD sejak 2014, terutama mengenai kebijakan gubernur saat itu, yakni Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Bagi pihak yang merasa keberatan dengan tulisan buku itu, Syarif membuka ruang untuk berdiskusi. Dia tak mempersoalkan, bila ada pihak yang ingin membantah pengalaman hidupnya selama menjadi anggota DPRD DKI dan mengawal kebijakan Pemprov DKI Jakarta.

”Namun konteks politik, yang saya ceritakan dalam buku itu memang adalah tangisan saya dalam menghadapi kebijakan pemerintah, terutama sahabat saya Gubernur DKI Jakarta saat itu Basuki Tjahaja Purnama,” ujarnya.

Dia mengatakan seharusnya Ahok (sapaan akrab Basuki Tjahaja Purnama) turut hadir dalam acara itu untuk memberikan sambutan. Namun karena berhalangan hadir, dia akhirnya menitipkan salam kepada para tamu undangan, terutama kepada Anies.

”Harusnya sahabat kita hadir, tapi karena berhalangan jadi dia nggak hadir dan menitipkan salam untuk Pak Anies dari Ahok,” politisi Partai Gerindra yang juga Sekretaris Komisi D DPRD DKI Jakarta ini.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswesdan mengapresiasi otobiografi yang dibuat Syarif. Anies menyebutkan banyak kisah yang selama ini tidak terungkap, namun dengan buku ini masyarakat menjadi tahu.

Banyak sekali kejadian yang tidak diketahui publik. ”Tapi bagi kita semua, penulisan buku perjalanan aktivis Pak Syarif ini, dapat ambil pengalaman,” ucap Anies. (ant/oke/sep)

 

Baca Juga  Penerapan Sistem Rekapitulasi Elektronik Diragukan

Baca Juga