SDN Sokosari Tuban Kenalkan Roda Emosi untuk Latih Siswa
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengenalkan praktik baik budaya sekolah aman dan nyaman melalui inovasi alat roda emosi dari UPT SDN Sokosari Tuban, Jawa Timur, dalam acara sosialisasi di Jakarta pada Selasa (2/6/2026).
Inovasi peraga berbentuk bulat dengan penunjuk serupa jarum jam tersebut dibuat untuk melatih para siswa mengenal sekaligus meregulasi emosi mereka, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Perwakilan UPT SDN Sokosari Tuban, Endang Saptarina memberikan contoh simulasi penggunaan alat tersebut ketika seorang siswa mengalami penolakan saat ingin meminjam alat tulis dari temannya.
"Ternyata enggak dipinjami. Emosi apa yang kamu rasakan? Nah itu macam-macam. Nah itu nanti bisa diputar sini anak-anak. Mungkin marah, tapi ada juga yang enggak marah tapi sedih saja," jelas Endang kepada detikEdu dalam Sosialisasi dan Deklarasi Komitmen Terkait Penguatan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman di Hotel Artotel Gelora Senayan, Jalan Pintu Satu Senayan, No. 1, Jakarta pada Selasa (2/6/2026).
Pihak sekolah menekankan pentingnya kemampuan mengelola perasaan dengan bijak karena setiap orang pada dasarnya diperbolehkan merasakan seluruh jenis emosi.
"Nah kita boleh merasakan semua emosi itu. Tapi yang lebih penting adalah bagaimana kalian mampu mengelola emosi marah, sedih sehingga memunculkan sikap yang bijak. Jadi kita melatih anak bijak," tuturnya.
Guru di sekolah kemudian mengarahkan anak-anak untuk menerapkan teknik pernapasan sebagai langkah penenangan diri begitu jenis emosi yang dirasakan berhasil diidentifikasi.
"Biasanya awal-awal itu suka guru yang beritahu kalau ada anak yang cek cok, ada yang marah, ayo tarik nafas. Sekarang sudah menjadi pembiasaan," ujarnya.
Penerapan metode ini disebut berhasil mengubah perilaku salah seorang siswa yang awalnya kerap mengalami tantrum dan melampiaskan masalah rumah ke teman-teman sekolahnya.
"Nah, kita telusuri ternyata ada kasus seperti itu. Tapi dengan treatment-treatment seperti ini, alhamdulillah sekarang anak itu bisa lebih tenang. Lebih bisa menerima. Kemudian dia juga mampu untuk mengelola emosinya," ujarnya.
Siswa yang bersangkutan sebelumnya sempat terisolasi akibat tidak menyadari dampak perilakunya, sehingga guru juga memberikan pemahaman kepada siswa-siswa lain agar tidak terjadi kesalahpahaman.
"Selain itu temannya juga kita beri pengetahuan bahwa sebetulnya seperti ini. Sehingga mereka juga tidak salah sangka. Nah, sehingga keduanya ini saling bisa memahaminya," katanya.