Rwanda Targetkan Pembangkit Energi Nuklir Beroperasi Awal 2030

Share

Pemerintah Rwanda menargetkan pengoperasian pembangkit energi nuklir pada awal dekade 2030 guna memperkuat ketahanan energi nasional dan mendorong industrialisasi dalam Konferensi Tingkat Tinggi Inovasi Energi Nuklir untuk Afrika (NEISA 2026) di Kigali pada 18-19 Mei 2026.

Langkah strategis ini diperkuat setelah Rwanda menyelesaikan Tinjauan Infrastruktur Nuklir Terintegrasi Fase 1 dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Direktur Jenderal IAEA Rafael Mariano Grossi menyerahkan langsung laporan final tersebut kepada Presiden Rwanda Paul Kagame dan menandatangani perjanjian pengembangan teknologi reaktor modular kecil (SMR) bersama Menteri Infrastruktur Rwanda Jimmy Gasore.

Melalui rencana jangka panjang ini, otoritas setempat menargetkan kontribusi pembangkit listrik tenaga nuklir mampu memasok lebih dari 60 persen dari total bauran listrik domestik pada tahun 2050. Saat ini, studi kelayakan sedang berjalan untuk fasilitas berbasis SMR serta Pusat Sains dan Teknologi Nuklir yang mencakup reaktor riset dan laboratorium medis.

Presiden Rwanda Paul Kagame menegaskan posisi strategis energi bagi masa depan benua tersebut dalam pidato pembukaan konferensi tingkat tinggi.

"The strong participation at the summit this year reflects a growing consensus that the future of our economies depends on how quickly we solve the energy challenge." kata Paul Kagame, Presiden Rwanda.

Kagame menyatakan bahwa penilaian dari IAEA menjadi bukti komitmen negaranya berada di jalur yang tepat demi mencapai kemandirian energi dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar impor.

"Rwanda is pleased to have successfully completed the IAEA’s Phase 1 Integrated Nuclear Infrastructure Review. We intend to have nuclear energy operational by the early 2030s, and this assessment confirms that we are on track." kata Paul Kagame, Presiden Rwanda.

Kagame menambahkan bahwa pasokan daya listrik yang stabil merupakan basis utama manufaktur modern, pemrosesan mineral, infrastruktur digital, serta layanan kesehatan mutakhir.

"For Africa, energy is not simply a development issue. It is the foundation of industrial growth, and competitiveness. Modern manufacturing, mineral processing, digital infrastructure, and advanced healthcare all depend on reliable power. The rapid expansion of artificial intelligence and data-driven industries will also significantly increase energy consumption." kata Paul Kagame, Presiden Rwanda.

Menurut Kagame, negara-negara yang gagal memenuhi permintaan energi ini akan menghadapi kesulitan besar untuk bersaing di ranah global.

"Countries that cannot meet this demand will struggle to compete. This is why Rwanda considers nuclear energy a critical component of Africa’s long-term transformation." kata Paul Kagame, Presiden Rwanda.

Kagame menggarisbawahi pentingnya proses regulasi internasional yang bersifat mendukung alih-alih menjadi penghambat baru.

"As more countries move in this direction, international reviews and regulatory processes should not become barriers, but instead offer the necessary support. For Rwanda, small modular reactors represent the most practical way forward." kata Paul Kagame, Presiden Rwanda.

Pilihan pada teknologi SMR dinilai paling realistis karena dapat diterapkan secara bertahap dengan biaya integrasi jaringan yang lebih rendah.

"They are better suited to the realities of most African countries, because they can be deployed gradually, and integrated into smaller grids at a lower cost. Renewable energy will remain indispensable, particularly solar and hydro, where Africa has enormous potential." kata Paul Kagame, Presiden Rwanda.

Kagame menyatakan bahwa stabilitas ekonomi tidak dapat bergantung sepenuhnya pada pasokan energi terbarukan yang bersifat intermiten.

"But our economies cannot function efficiently on intermittent supply alone. At the centre of this endeavour, is the question of investment. Too often, investors hesitate because they perceive many risks in Africa. We must work to strengthen regulation, ensure consistency and accountability in order to build confidence and attract long-term capital." kata Paul Kagame, Presiden Rwanda.

Kagame melihat lanskap pendanaan global kini mulai bergeser dengan pengakuan terhadap nuklir sebagai bagian dari transisi energi bersih.

"The international financing environment is also evolving. Nuclear energy is increasingly recognised as part of the clean energy transition and that creates new opportunities." kata Paul Kagame, Presiden Rwanda.

Ia mengingatkan bahwa fragmentasi kerja sama antarnegara di Afrika hanya akan memperlambat kemajuan penyerapan teknologi ini.

"What Africa cannot afford is fragmentation. If countries work in isolation, progress will be slow and far more costly. Cooperation on regulation, financing, and regional power integration is essential. This is precisely why NEISA matters." kata Paul Kagame, Presiden Rwanda.

Forum ini ditujukan untuk menggeser diskusi dari sekadar ambisi menjadi koordinasi praktis serta mekanisme pendanaan yang berkelanjutan.

"We are moving the conversation beyond ambition to practical coordination, and financing mechanisms that can sustain deployment at scale. Rwanda will continue supporting these efforts, because this is larger than any one country." kata Paul Kagame, Presiden Rwanda.

Kagame menutup pemaparannya dengan menyoroti potensi demografi pekerja yang masif di Afrika pada pertengahan abad ini.

"By 2050, Africa will have the largest workforce in the world. 7/7 That demographic shift can become one of the greatest economic advantages of this century, if we prepare for it. In this regard, we are delighted that Togo will host the next NEISA, and carry forward this continental momentum." kata Paul Kagame, Presiden Rwanda.

KTT NEISA 2026 turut dihadiri oleh sejumlah pemimpin negara Afrika lainnya untuk membahas integrasi infrastruktur energi.

"Africa’s economic transformation depends on reliable, affordable and sustainable energy systems, particularly as demand rises from digital infrastructure, manufacturing and mining sectors requiring stable baseload power." kata Samia Suluhu Hassan, Presiden Tanzania.

Presiden Togo Faure Gnassingbé memberikan pandangan mengenai penerimaan lembaga keuangan global terhadap teknologi reaktor nuklir terbaru.

"Small modular reactors and micro reactors are no longer a distant prospect for Africa, noting that international financial institutions and global climate forums are increasingly recognising nuclear energy as part of the clean energy transition." kata Faure Gnassingbé, Presiden Togo.

Di samping aspek regulasi global, penguatan kapasitas domestik juga diupayakan melalui kemitraan strategis multilateral dengan menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) bersama Rusia, Amerika Serikat, serta perusahaan asal Afrika Selatan dan Austria.

"In addition to Russian company Rosatom, Rwanda also signed MoUs with the US government on civil nuclear cooperation, as well as agreements with firms from South Africa and Austria," kata Yolande Makolo, Juru Bicara Pemerintah Rwanda.

Pengembangan program nuklir ini juga mendapat perhatian dari Badan Energi Nuklir (NEA) OECD melalui kunjungan Direktur Jenderal NEA William D. Magwood, IV ke Rwanda.

"The Next Nuclear Energy Era: Opportunities and Challenges" ucap William D. Magwood, IV, Direktur Jenderal NEA.

Pengamat hubungan internasional Profesor Macharia Munene menilai langkah pragmatis ini diambil karena pendekatan kemitraan dari Moskow dinilai lebih konsisten tanpa tuntutan politik tertentu.

"Russia is benefitting from weakening perceptions of Western consistency," ujar Macharia Munene, Profesor Diplomasi dan Hubungan Internasional.

Munene berpendapat kejelasan komitmen investasi dan pelatihan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pemimpin di kawasan tersebut.

"In the eyes of some African leaders, Moscow’s approach is more predictable: you get investment and training without strings attached." kata Macharia Munene, Profesor Diplomasi dan Hubungan Internasional.

Di sisi lain, tidak adanya pretensi moral dari Rusia dinilai menjadi pembeda di tengah persepsi standar ganda barat.

"Russia does not pretend to be morally superior," kata Macharia Munene, Profesor Diplomasi dan Hubungan Internasional.

Munene menekankan kombinasi tersebut membuat kerja sama dengan Rusia dan Cina semakin diminati oleh negara-negara Afrika.

"That honesty, combined with Western double standards, draws African countries to Russia and China." kata Macharia Munene, Profesor Diplomasi dan Hubungan Internasional.

Analis senior Control Risks Beverly Ochieng menilai kesepakatan-kesepakatan taktis ini merupakan bagian dari upaya penyeimbangan geopolitik Rwanda.

"Rwanda will still be able to juggle multiple bilateral partners," kata Beverly Ochieng, Analis Senior Control Risks.

Ochieng menambahkan bahwa sebagian besar kesepakatan nuklir saat ini masih bersifat simbolis dan memerlukan waktu hingga satu dekade untuk dapat beroperasi penuh.

"Most of Russia's nuclear agreements are symbolic," sebut Beverly Ochieng, Analis Senior Control Risks.

Di sisi lain, di luar sektor energi, Bank Nasional Kamboja dan Bank Nasional Rwanda juga mengumumkan inisiatif kerja sama pembayaran lintas batas berdasarkan kesepakatan yang ditandatangani sejak tahun 2023.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author