Rwanda Targetkan Energi Nuklir Beroperasi Awal 2030
Pemerintah Rwanda menargetkan pasokan energi nuklir dapat beroperasi pada awal dekade 2030 sebagai fondasi pertumbuhan industri dan transformasi ekonomi jangka panjang di benua Afrika.
Rencana strategis tersebut dibahas dalam KTT Inovasi Energi Nuklir untuk Afrika (NEISA 2026) di Kigali, Rwanda, yang dihadiri oleh para pemimpin pemerintahan, regulator, dan lembaga keuangan internasional sejak pertengahan Mei 2026.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) telah menyerahkan laporan peninjauan Tahap 1 mengenai infrastruktur nuklir terintegrasi serta menandatangani kerja sama baru dengan Menteri Infrastruktur Rwanda Jimmy Gasore terkait pengembangan teknologi reaktor modular kecil (SMR).
Direktur Jenderal IAEA Rafael Mariano Grossi juga mengadakan pertemuan bilateral terpisah dengan Presiden Tanzania Samia Suluhu Hassan untuk memperluas kerja sama di bidang perawatan kanker dan ketahanan pangan melalui program khusus.
Selain dukungan IAEA, Rwanda memperluas kemitraan geopolitik melalui penandatanganan kesepakatan kerja sama nuklir sipil, kedokteran nuklir, dan sains dengan Rusia, Amerika Serikat, serta sejumlah perusahaan asal Afrika Selatan dan Austria.
Juru bicara pemerintah Rwanda Yolande Makolo menjelaskan bahwa studi kelayakan saat ini sedang berjalan untuk fasilitas berbasis SMR dan Pusat Sains dan Teknologi Nuklir yang nantinya akan menampung reaktor riset serta laboratorium pelatihan.
Direktur Jenderal Badan Energi Nuklir (NEA) William D. Magwood, IV yang turut hadir dalam rangkaian kunjungan kerja tersebut menegaskan pentingnya alokasi risiko yang efektif serta kepemimpinan yang kuat demi menarik investasi jangka panjang pada proyek nuklir baru.
Magwood juga memberikan kuliah umum di Universitas Rwanda mengenai tantangan lanskap nuklir global serta melakukan pertemuan bilateral dengan Sekretaris Tetap Kementerian Pendidikan Rwanda Charles Karakye guna membahas pengembangan kapasitas sumber daya manusia.
Tercatat sebanyak 13 negara di Afrika kini sedang aktif mengejar program energi nuklir bersama IAEA dengan memanfaatkan skema pendanaan baru hasil kolaborasi antara IAEA dan Bank Dunia yang disepakati sejak 2025.