Rusia dan Ukraina Saling Serang Drone dan Rudal Jelang Akhir Agustus
Eskalasi serangan udara meluas setelah militer Ukraina meluncurkan lebih dari 600 drone ke wilayah Moskow, sementara serangan rudal balistik Rusia menewaskan sedikitnya 10 warga sipil di desa Pechenihy, wilayah Kharkiv, pada Selasa. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim berhasil mencegat dan menjatuhkan total 791 drone Ukraina di berbagai wilayah, termasuk kawasan Crimea, Laut Hitam, dan Laut Azov, dalam salah satu serangan udara terbesar sejak awal invasi. Wali Kota Moskow Sergey Sobyanin mengonfirmasi bahwa sedikitnya 197 drone berhasil dihancurkan oleh sistem pertahanan udara di atas wilayah ibu kota Rusia.
Gubernur Wilayah Moskow Andrey Vorobyov melaporkan tiga orang terluka, termasuk seorang anak perempuan berusia 10 tahun, serta kerusakan pada pemukiman warga, pusat perbelanjaan, gedung pemerintah lokal, dan fasilitas logistik perusahaan e-commerce Wildberries.
Pihak penyedia energi regional Mosoblenergo mencatat lebih dari 5.000 pelanggan dan 46 fasilitas sosial sempat mengalami pemadaman listrik, sementara otoritas penerbangan Rosaviatsia menerapkan pembatasan penerbangan sementara di empat bandara internasional Moskow. Serangan drone Ukraina juga melukai tiga orang di wilayah Ryazan dan merusak tiga rumah warga, serta melukai tiga orang lainnya di wilayah Bryansk.
Perusahaan ritel Wildberries mengonfirmasi dampak serangan tersebut melalui pernyataan resminya. "Fasilitas logistik mengalami kerusakan kecil akibat serpihan drone yang mengenai dinding bangunan," tulis pihak Wildberries di media sosial.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan bahwa koordinasi operasi jarak jauh telah dibahas bersama para pemimpin militer untuk menentukan prioritas serangan hingga bulan depan. "Kami mengonfirmasi prioritas untuk serangan jarak jauh dalam beberapa minggu mendatang dan pada bulan September. Kerusakan terkonfirmasi yang ditimpakan kepada pihak Rusia membuktikan efektivitas strategi jarak jauh kami," tulis Zelenskyy. Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menuduh Moskow sengaja memperpanjang konflik militer.
"Putin terus mengulur-ulur perang bukannya menerima usulan gencatan senjata yang realistis dari Ukraina dan menghentikan pertumpahan darah," tulis Sybiha di platform X.
Di sisi lain, Angkatan Udara Ukraina melaporkan Rusia meluncurkan 147 drone ke berbagai wilayah Ukraina, di mana 111 di antaranya berhasil dijatuhkan atau dilumpuhkan. Kepala Administrasi Militer Wilayah Kharkiv Oleh Syniehubov mengonfirmasi serangan rudal di desa Pechenihy merusak 10 rumah, kafe, kantor pos, toko, dan sedikitnya tujuh kendaraan serta melukai 17 orang. Presiden Volodymyr Zelenskyy menegaskan komitmennya untuk membalas serangan udara yang menewaskan warga sipil tersebut.
"Kami pasti akan membalas serangan Rusia ini," tulis Zelenskyy di saluran Telegram.
"Dan yang tidak kalah penting adalah para mitra kami juga mendukung tanggapan kami yang adil dan tegas dengan langkah-langkah mereka sendiri untuk menekan Rusia dan mendukung Ukraina," lanjut Zelenskyy. Otoritas lokal Ukraina mencatat korban jiwa tambahan akibat serangan Rusia di wilayah lain, mencakup satu tewas dan 15 terluka di Zaporizhzhia, dua tewas dan 10 terluka di Kherson, satu tewas di Donetsk, serta tiga tewas dan tiga terluka di Sumy.
Menanggapi gempuran tersebut, Pemerintah Inggris menegaskan akan terus memberikan bantuan militer kepada Kyiv meskipun mendapat peringatan keras dari kedutaan Rusia di London. "Inggris berdiri bahu-membahu dengan Ukraina, dan kami berkomitmen untuk menyediakan peralatan yang dibutuhkan Ukraina untuk membela diri dari invasi ilegal Putin," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Inggris.