Rupiah Pasar NDF Stagnan akibat Guncangan Ekonomi Global dan Domestik

Share

Nilai kontrak rupiah di pasar Non-Deliverable Forward atau NDF bergerak stagnan pada perdagangan pagi ini di posisi Rp17.684/US$. Seperti dilansir dari Bloomberg Technoz, mata uang rupiah offshore kemudian terpantau sedikit melemah menuju level Rp17.686/US$.

Kondisi ini terjadi saat indeks dolar Amerika Serikat terhadap enam mata uang utama bertengger di angka 99,25. Pada saat yang sama, harga minyak Brent mengalami sedikit penurunan namun tetap bertahan tinggi pada level US$102,58 per barel.

Pergerakan mata uang di kawasan Asia terpantau cukup bervariasi karena terpengaruh sentimen global. Optimisme terkait potensi berakhirnya perang memberikan ruang penguatan bagi sejumlah mata uang regional.

Yuan offshore, won Korea Selatan, dan yuan China tercatat menguat pada perdagangan pasar yang telah dibuka sejak pukul 07:00 WIB. Sebaliknya, pelemaan terbatas dialami oleh yen Jepang, dolar Singapura, serta dolar Hong Kong.

Fluktuasi yang beragam ini dipicu oleh dampak guncangan harga minyak dan pangan yang tidak merata di Asia. Inflasi akibat lonjakan harga minyak dunia sejak awal Maret telah mengganggu jalur distribusi pupuk hingga mengerek biaya produksi pertanian.

Peso Filipina menjadi mata uang paling rentan dan terdampak paling besar akibat status negara tersebut sebagai pengimpor pangan dan energi. Besarnya porsi komponen pangan dan energi dalam indeks harga konsumen meningkatkan risiko inflasi yang berpotensi menggerus nilai peso.

Sementara itu, mata uang baht Thailand ikut tertekan oleh kenaikan harga minyak dunia. Namun, posisi Thailand sebagai eksportir bersih pangan membantu meredam efek negatif terhadap neraca perdagangan mereka meskipun transmisi inflasi tetap berisiko.

Di sisi lain, ringgit Malaysia dan dolar Singapura memiliki potensi untuk mencatatkan kinerja yang lebih baik di kawasan regional. Hal ini ditopang oleh aktivitas ekspor minyak Malaysia serta status Singapura sebagai aset defensif regional.

Data Performa Mata Uang Regional

Sejak awal kuartal II-2026, ringgit Malaysia tercatat menguat sebesar 2,25%. Penguatan tersebut diikuti oleh yuan China sebesar 1,37% dan yuan offshore yang naik 1,33%.

Sebaliknya, pelemahan paling tajam dialami oleh Indonesia dengan depresiasi mencapai 3,73%. Posisi pelemahan berikutnya diikuti oleh rupee India yang merosot sebesar 1,43%.

Sentimen Kebijakan Domestik dan Kekhawatiran Pasar

Tekanan dari dalam negeri masih terus membayangi pergerakan nilai tukar rupiah saat ini. Kondisi tersebut tetap terjadi meskipun Bank Indonesia telah mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan hingga 5,25% yang melampaui ekspektasi pasar.

Sejumlah kebijakan pemerintah dinilai berisiko memperburuk kondisi fiskal karena dianggap terlalu populis dan menguras anggaran dalam jumlah jumbo. Terlebih lagi, posisi rasio penerimaan negara terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia merupakan yang paling rendah di antara negara-negara G20.

Sebagai perbandingan, rasio pendapatan negara terhadap PDB di Meksiko berada di angka 25% dan India mencapai 20%. Sementara untuk tingkat Asia Tenggara, Filipina mencatatkan rasio 21% dan Kamboja sebesar 15%, sedangkan Indonesia hanya berada di kisaran 11% hingga 12% dari PDB.

Pasar juga menaruh perhatian besar pada perubahan kebijakan ekonomi berupa pengalihan tata kelola ekonomi yang semakin tersentralisasi ke pemerintahan. Pemerintah berencana mengambil alih kendali ekspor komoditas nasional dengan membentuk Badan Usaha Milik Negara khusus ekspor melalui entitas PT Danantara Sumberdaya Indonesia.

Perubahan tata kelola ini menambah dinamika kekhawatiran para investor terkait kepastian regulasi serta arah kebijakan ke depan. Moody's bahkan telah memberikan peringatan terkait dampak dari pengetatan kontrol ekspor komoditas tersebut.

Lembaga pemeringkat kredit tersebut menyoroti bahwa kontrol negara terhadap ekspor berpotensi memicu distorsi pasar yang dapat mengimbangi tujuan kebijakan lainnya. Selain itu, kerangka kebijakan ini dinilai berdampak negatif bagi profil kredit perusahaan tambang karena meningkatkan risiko regulasi, operasional, dan finansial akibat intervensi pemerintah.

Arah pergerakan rupiah di pasar spot dalam jangka pendek akan sangat bergantung pada persepsi investor terhadap kredibilitas kebijakan ekonomi domestik. Langkah Bank Indonesia menaikkan BI Rate dinilai hanya memberikan bantalan sementara bagi rupiah melalui pelebaran selisih suku bunga dengan Amerika Serikat.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author