Rupiah Melemah ke Posisi Rp17654 per Dolar AS pada Akhir Perdagangan

Share

Nilai tukar rupiah menutup perdagangan pada Kamis (21/5/2026) dengan pelemahan sebesar 0,28 persen ke posisi Rp17.654 per dolar AS akibat bayangan tekanan domestik serta tingginya harga minyak mentah dunia, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz.

Pelemahan mata uang garuda ini terjadi bersamaan dengan won Korea Selatan, yen Jepang, dan dolar Singapura yang mengalami penurunan tipis.

Sebaliknya, sebagian mata uang di kawasan Asia justru berhasil bangkit dengan dipimpin oleh rupee India yang menguat 0,47 persen, diikuti peso Filipina, baht Thailand, dolar Taiwan, ringgit Malaysia, serta yuan offshore dan onshore.

Kondisi domestik masih menekan pergerakan rupiah walaupun Bank Indonesia telah mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen yang melampaui ekspektasi pasar.

Kebijakan pemerintah yang dinilai terlalu populis dan memakan anggaran besar dianggap berisiko memperburuk kondisi fiskal, terutama karena rasio penerimaan negara terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia hanya berkisar 11 hingga 12 persen.

Angka rasio pendapatan tersebut merupakan yang paling rendah di antara negara G20, jika dibandingkan dengan Meksiko sebesar 25 persen, India 20 persen, Filipina 21 persen, dan Kamboja yang mencapai 15 persen.

Selain masalah internal, harga minyak jenis Brent yang bertahan tinggi di level US$105 per barel turut mengancam laju inflasi negara importir minyak seperti Indonesia, yang berpotensi melampaui target rentang 1,5 hingga 3,5 persen.

Sepanjang tahun 2026, nilai tukar rupiah tercatat telah melemah sekitar 5,5 persen, sementara Indeks Harga Saham Gabungan turun 29 persen, dan yield obligasi pemerintah masih bertahan di posisi tinggi.

Guna meredam gejolak di pasar obligasi tersebut, otoritas kembali melakukan intervensi pembelian obligasi pada hari ini dengan target alokasi dana mencapai Rp2 triliun per hari.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author