Saksi Bisu Rengasdengklok: Kisah Rumah Djiaw Kie Siong dan Proklamasi
Nama Sukarno dan Mohammad Hatta begitu lekat dengan panggung sejarah Rengasdengklok. Namun di balik detik-detik krusial menuju kemerdekaan Indonesia, ada peran keluarga Djiaw Kie Siong yang rumahnya mendadak disinggahi oleh rombongan tokoh proklamator tersebut.
Rumah kayu yang dibangun pada 1920 itu masih berdiri kokoh di Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat. Bangunan tua bersejarah itu hingga kini tetap menjadi tempat tinggal bagi para keturunan Djiaw Kie Siong. Menurut generasi ketiga keluarga, Lani, sosok kakeknya sejatinya hanyalah warga biasa yang sehari-hari menggantungkan hidup sebagai petani dan pedagang bambu. Kendati demikian, Djiaw Kie Siong termasuk salah satu tokoh yang dituakan di lingkungan kampung, dan rumah miliknya pun tergolong sangat luas untuk ukuran kawasan Rengasdengklok kala itu.
Kombinasi reputasi serta kapasitas bangunan itulah yang akhirnya membuat rumah Djiaw Kie Siong dipilih sebagai lokasi penampungan Sukarno dan Hatta. Rengasdengklok sendiri dipilih karena dinilai jauh lebih aman serta terisolasi dari jangkauan patroli tentara Jepang maupun gejolak politik di Jakarta. Ketika rombongan besar tersebut tiba, kediaman keluarga sederhana ini harus segera dikosongkan.