Rudal Iran Lumpuhkan Pangkalan Bahrain AS Pindahkan Logistik
Serangan gelombang rudal dan drone Iran melumpuhkan pangkalan utama Angkatan Laut Amerika Serikat di Bahrain, memicu kekacauan pada rantai pasokan militer Washington. Pentagon terpaksa mengambil langkah darurat dengan memindahkan titik pusat pengiriman logistik ke pulau terpencil Diego Garcia di Samudra Hindia.
Pemindahan rute logistik sejauh 2.200 mil dari Teluk Oman tersebut berdampak langsung pada tersendatnya ketersediaan pasokan bagi kapal induk USS Abraham Lincoln. Kapal yang membawa lebih dari 5.000 pelaut dan personel Korps Marinir AS itu tertahan di laut lepas selama hampir sembilan bulan tanpa persinggahan pelabuhan, memicu penurunan moral serta kesehatan mental awak kapal.
Mantan Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS, Mike Mullen, menyampaikan keterkejutannya atas kehancuran pangkalan sekutu dalam wawancara dengan ABC News pada Minggu, 16 Agustus 2026.
"Ini merupakan hal yang sangat signifikan dan sangat sulit. Penugasan seperti ini sangat, sangat berat. Secara historis, kami biasanya dapat masuk ke pelabuhan untuk beristirahat, melakukan perbaikan, kemudian kembali menjalankan operasi. Bahkan pada masa Vietnam, kami melakukan hal tersebut," kata Mullen.
Mullen menjelaskan bahwa ancaman keamanan di wilayah operasi membuat kapal-kapal militer AS kehilangan tempat untuk berhenti dan memulihkan kondisi.
"Masalah saat ini di wilayah operasi adalah lokasi tempat kami melakukan semua itu. Bahrain berada di tengah konflik, begitu juga Uni Emirat Arab. Tempat-tempat tersebut sekarang menjadi sasaran.
Karena itu, keamanan dan keselamatan aset-aset ini menjadi perhatian yang sangat besar. Sederhananya, tidak ada tempat yang mudah untuk berhenti di pelabuhan," ujar Mullen.
Ia juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap kondisi operasional kapal serta personel yang bertugas di kawasan tersebut.
"Saya tentu mengkhawatirkan kondisi kapal berdasarkan apa yang saya lihat dalam laporan berita. Saya tahu komandan, terutama komandan kapal Lincoln, bekerja keras menangani persoalan tersebut. Saya juga percaya kebenarannya mungkin berada di antara berbagai laporan yang beredar," kata Mullen.
Mullen menegaskan bahwa kehancuran pangkalan pendukung di Timur Tengah merupakan hal di luar perkiraan militer AS.
"Saya pikir kami jelas tidak memperkirakan pangkalan sekutu kami, tempat kami sebelumnya menempatkan pasukan, akan dihancurkan oleh Iran," katanya.
Kehancuran fasilitas militer di Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab memaksa penyesuaian strategi operasional secara mendadak.
"Karena itu, dalam hal perencanaan, semuanya harus disesuaikan secara langsung dengan keadaan. Menemukan tempat untuk melakukan hal tersebut menjadi sangat, sangat sulit. Pada dasarnya, Anda terpaksa tetap berada di laut," ujar Mullen.
Ia menambahkan bahwa waktu pemulihan sangat diperlukan bagi armada dan prajurit sebelum menjalani penugasan berikutnya.
"Semua kapal ini, para personel ini, dan keluarga mereka pada dasar nya harus kembali, memahami bagaimana mempersiapkan diri untuk misi berikutnya. Namun, hal tersebut membutuhkan waktu," katanya.
Mullen turut menyoroti keterbatasan jumlah armada kapal induk AS yang saat ini hanya berjumlah 11 unit.
"Dalam kondisi saat ini, jika kita akan mengerahkan mereka seperti ini, menurut saya kita benar-benar membutuhkan jumlah yang lebih banyak," ujar Mullen.
Eskalasi konflik juga memicu ancaman ke jalur pasokan baru, di mana Iran meluncurkan dua rudal balistik jarak menengah ke arah Diego Garcia, meski satu rudal jatuh di perairan terbuka dan satu lainnya berhasil diintersepsi kapal perang AS.
Di sisi diplomatik, laporan The Washington Post mencatat meningkatnya kekecewaan dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Bahrain terhadap kepemimpinan Presiden Donald Trump. Seorang pejabat Teluk menyatakan ketidakpuasannya atas dampak konflik regional tersebut.
"Trump memulai perang ini," kata seorang pejabat Teluk.
Kondisi ini mendorong negara-negara Teluk memperluas kerja sama pertahanan alternatif, seperti perjanjian pertahanan bersama antara Arab Saudi, Turki, dan Pakistan. Meski demikian, perwakilan pemerintah AS menegaskan komitmen aliansi mereka di kawasan.
"Amerika Serikat telah menjalin kontak reguler dengan semua sekutu regional kami sejak sebelum Operasi Epic Fury," kata seorang pejabat Gedung Putih.
Tekanan terhadap kebijakan luar negeri AS juga disuarakan para analis. Emma Ashford dari Stimson Center menyebut adanya ilusi kontrol dalam keterlibatan militer AS, sementara Nahal Toosi dari Politico menilai Washington terperosok dalam rawa konflik baru yang menyerupai Perang Irak.
Dari dalam negeri AS, Senator Richard Blumenthal dan Perwakilan Mike Levin telah mengirimkan surat resmi yang menyoroti dampak kehancuran pangkalan Bahrain terhadap kelumpuhan efisiensi logistik militer. Meskipun demikian, Presiden Donald Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth menegaskan operasi militer AS di jalur laut kawasan tersebut tetap berlanjut tanpa batasan waktu.