Program Revitalisasi Sekolah Meningkatkan Angka Partisipasi Kasar Pendidikan di Kupang

Share

Program pembenahan fasilitas pendidikan berdampak positif terhadap peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK) di daerah. Dampak nyata tersebut salah satunya terlihat di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, dilansir dari Detikcom.

Widyaprada Ahli Utama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Khamim, menjelaskan bahwa perbaikan fisik sekolah membawa perubahan signifikan pada daya tampung siswa. Penambahan ruang kelas baru memberikan kesempatan belajar yang lebih luas bagi masyarakat setempat.

Badan Pusat Statistik mendefinisikan APK sebagai perbandingan antara jumlah penduduk yang mengenyam pendidikan di tingkat tertentu dengan total penduduk usia sekolah yang memenuhi syarat di jenjang tersebut.

Pengaruh perbaikan fisik ini dirasakan langsung oleh SD Inpres Naimata Kupang. Sebelum mendapatkan bantuan penataan fasilitas, sekolah tersebut mengalami keterbatasan ruangan hingga harus membagi proses kegiatan belajar mengajar ke dalam tiga shift.

Kini, sekolah tersebut mampu menampung 539 murid dalam satu waktu bersamaan. Kondisi ini membuat proses pembelajaran menjadi jauh lebih efektif dan efisien bagi para siswa maupun guru.

"Kita sudah melihat perubahan yang sangat drastis dari sekolah yang sebelumnya belum dilakukan revitalisasi. Ada penambahan ruang kelas yang sangat signifikan dan berdampak terhadap jumlah siswa yang akhirnya bisa bersekolah," ujar Khamim saat Konferensi Pers di SD Inpres Naimata, Kupang, Nusa Tenggara Timur, Selasa (21/7/2026).

Kepala Sekolah SD Inpres Naimata Kupang, Martinus Klau, menyebutkan bahwa pihak sekolah kini hanya menjalankan satu shift pembelajaran. Bahkan masih terdapat satu ruang kelas kosong yang siap digunakan untuk menampung murid baru.

"Ini salah satu sekolah yang hanya satu shift sehingga beberapa hari ke depan sudah ada banyak anak murid yang dipindahkan ke sini karena kesibukan orang tua, mereka tidak bisa lagi mengantar anak di jam 10 jam 11 untuk sekolah siang," kata Martinus Klau.

"Sehingga izin Bapak Kadisdik bahwa ketika mereka datang tidak mungkin kami tolak karena anak Indonesia harus mendapatkan pelayanan pendidikan. Dan puji Tuhan bahwa ruangan kami masih tersedia satu kelas yang kosong," sambungnya.

Capaian Partisipasi Pendidikan Kota Kupang

Data statistik menunjukkan capaian partisipasi sekolah di ibu kota Provinsi NTT tersebut telah melampaui target nasional. Angka capaian tersebut mencakup pula anak-anak yang masuk sekolah di luar usia standar.

"Kota Kupang itu sebenarnya kalau dari sisi APK sudah tuntas paripurna karena mencapai 107,50 persen. Artinya, jumlah anak yang bersekolah di jenjang SD sudah sangat tinggi, bahkan mencakup anak-anak yang masuk sekolah lebih awal atau di atas usia standar," jelas Khamim.

Meskipun persentase partisipasi terbilang tinggi, catatan Kemendikdasmen menunjukkan masih ada sekitar 3,83 persen anak usia 7-12 tahun di Kupang yang belum mengenyam pendidikan formal. Pemerintah daerah diharapkan dapat menyisir anak-anak tersebut agar mendapatkan hak belajar yang sama.

"Maknanya, ada 3,83 persen anak usia sekolah yang masih harus kita sisir. Kami minta bantuan RT, RW, hingga kelurahan untuk mencari tahu di mana mereka," tegas Khamim.

Peningkatan sarana dan prasarana ini diharapkan menjadi pijakan utama dalam menjaga mutu pendidikan secara berkelanjutan menyongsong tahun ajaran baru 2026/2027.

"Menyongsong tahun ajaran baru 2026/2027, sekolahnya sudah hebat, memadai, dan lengkap. Upaya peningkatan mutu inilah yang sekarang harus kita dorong bersama," pungkas Khamim.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author