Remaja 14 Tahun Tewaskan 8 Orang dalam Penembakan di Sekolah Nonthaburi
Remaja berusia 14 tahun melakukan penembakan di SMA Debsirin Nonthaburi, Thailand, pada 7 Agustus, menewaskan delapan orang termasuk kakek-neneknya dan beberapa guru serta siswa, dilansir dari Detikcom.
Kepolisian Thailand menyebut pelaku belajar menggunakan senjata melalui media sosial dan dipicu konsumsi konten kekerasan serta masalah keluarga. Hingga kini, 22 orang lainnya turut terluka dalam insiden tersebut.
Mayor Jenderal Polisi Atthapol Anusit mengatakan telah memeriksa 17 saksi dan menduga serangan ini direncanakan sebelumnya. Polisi menyita senjata, selongsong peluru, ponsel, dan pisau dari pelaku.
"Kami temukan pelaku mengakses konten kekerasan di media sosial," ujar Atthapol. Ia juga menyebut tidak ada bukti pelaku pernah berlatih menembak secara langsung.
Ayah pelaku menyampaikan permintaan maaf atas tindakan anaknya. Seorang guru menggambarkan pelaku sebagai murid baik dan berprestasi, sedangkan otoritas pendidikan menyebutnya antusias terhadap gim video.
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menyatakan nenek pelaku diduga cukup tegas terhadap remaja tersebut. Ia berjanji memperketat regulasi kepemilikan senjata api setelah insiden ini.
"Tragedi ini seharusnya tidak terjadi," kata Anutin. Ia berencana mengajukan undang-undang yang membatasi kepemilikan dan membawa senjata api, hanya memperbolehkan pejabat pemerintah membawa senjata saat bertugas.
Penembakan bermula dari rumah pelaku di mana kakek dan neneknya ditembak hingga tewas pada pukul 05.00 waktu setempat. Pelaku kemudian naik bus ke sekolah dan saat kelas berlangsung, ia menembak guru dan siswa hingga akhirnya menembak dirinya sendiri.
Mayor Jenderal Polisi Dejrapee Kongdee menyatakan pelaku menembak guru di lantai enam dan membunuh wakil kepala sekolah serta sekretaris kepala sekolah di tangga. Polisi menemukan pelaku sekitar pukul 10.40 dalam kondisi sudah menembak dirinya.
Seorang siswa yang menyaksikan kejadian mengira suara tembakan adalah petasan. Siswa dan guru tampak terpukul dan menangis setelah insiden. Seorang siswi menyatakan ia melihat guru ditembak saat sedang berbicara dengannya dan terpaksa melarikan diri dengan teman-temannya.
Penembakan di sekolah ini merupakan yang kedua di Thailand pada tahun 2026, setelah insiden di sekolah lain pada Februari. Masalah akses mudah terhadap senjata api menjadi sorotan kembali.
Wakil Menteri Dalam Negeri Polapee Suwanchawee menyebut pelaku gemar bermain gim dan tinggal bersama kakek-neneknya setelah orang tua bercerai. Senjata yang digunakan merupakan pistol legal milik kakeknya yang seorang guru.
Kepolisian Kerajaan Thailand terus menyelidiki insiden ini untuk mengungkap penyebab dan melanjutkan proses hukum sesuai ketentuan.