Rekan Sejawat dan Dosen FSRD ISI Jogja Kenang Sosok Pelukis Nasirun
Kepergian maestro lukis asal Cilacap, Nasirun, meninggalkan kenangan mendalam bagi para rekan sejawat dan akademisi seni di Yogyakarta setelah ia mengembuskan napas terakhirnya pada Sabtu (1/8/2026) sekitar pukul 05.00 WIB.
Sebelum dilarikan ke rumah sakit pada pukul 02.00 WIB dini hari akibat sesak napas yang semakin parah, Nasirun sempat beraktivitas normal menyapu rumah dan menonton pameran bersama tetangganya di Perumahan Bayeman Permai.
Rekan sesama seniman, Jumadil Alvi, mengungkapkan bahwa almarhum sempat mengeluhkan kondisi kesehatan beberapa hari sebelum berpulang, namun enggan memeriksakan diri ke dokter.
"Masih. Di sini, di rumahnya. Saya lewat sini dia lagi nyapu. Masih kegiatan," kata Alvi.
Menurut Alvi, saat menyaksikan pameran bersama dua hari sebelumnya, Nasirun terlihat mengenakan pakaian serba tebal karena cuaca dingin di Yogyakarta.
"Cuaca Jogja kan memang lagi dingin. Wis koyo ngono krukupan, jaketan, syal ya biasa bercanda-bercanda aja. Nah kemarin sore juga kayak gitu dia itu.
Saya sendiri pas dikasih tau tadi pagi langsung kaget sekali karena enggak nyangka baru kemarin kita ngobrol-ngobrol itu. Jadi prosesnya cepat sekali," ujar Alvi.
Pihak keluarga menyampaikan bahwa penderitaan sesak napas almarhum sebenarnya telah dirasakan secara hilang timbul dalam tiga hari terakhir.
"Jadi memang kalau sesaknya itu kata keluarga tiga hari ini udah sesak cuman kan hilang timbul hilang timbul dan memang beliau itu kan orang yang agak takut kalau periksa-periksa ke dokter, biasa lah seniman," ucap Alvi.
Ketika kondisi Nasirun memburuk pada dini hari, almarhum langsung dibawa ke rumah sakit hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia, sementara Alvi membantu persiapan di rumah duka.
"Saya langsung ke sini nyiapin di sini jadi anak-anak ke sana (rumah sakit) saya ke sini karena kan enggak ada orang di sini," ujarnya.
Selain mengenai kondisi terakhirnya, Alvi juga mengenang Nasirun sebagai sosok pengayom yang sangat memperhatikan para seniman muda dan tidak pernah membedakan tingkatan senioritas.
"Dengan seniman-seniman muda Jogja sangat perhatian. Dia tidak membedakan antar seniman. Makanya kadang-kadang kan saya bercanda sama dia, 'Sosok kayak kamu itu udah pameran internasional di mana-mana, tapi pameran RT antar gang aja dia tetap mau'. Tetap datang," katanya.
Kesan mendalam juga dirasakan oleh Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Yogyakarta, Mikke Susanto, yang menilai Nasirun sebagai figur inspiratif dalam memberikan keyakinan berkarir di dunia seni.
"Saya mengenal Nasirun sebagai orang yang secara singkat adalah orang yang mampu membuat saya percaya diri hidup di dunia kesenian. Kadang-kadang ada keluarga yang masih belum yakin bahwa anaknya yang di kesenian itu bisa hidup," ujar Mikke.
Mikke mengingat salah satu bentuk kolaborasi monumental bersama almarhum adalah pertunjukan seni selama 24 jam yang digelar saat masa pandemi COVID-19.
"Salah satu yang mungkin bisa disebut menarik itu ketika kolaborasi antara Nasirun dan Sujiwo Tejo di sini, 24 jam performance," kata Mikke.
Melalui berbagai aksi dan karyanya, almarhum dinilai mampu memberikan makna serta dampak positif yang luas bagi masyarakat umum di luar lingkup komunitas seniman semata.
"Di situ banyak sekali hal-hal yang menarik untuk kita sadari sebagai bagian dari kebutuhan publik, bukan hanya sebagai seniman tetapi bagaimana seniman itu mampu mengambil hikmat-hikmat kehidupan untuk masyarakat secara luas," katanya.