Rating Donald Trump Anjlok akibat Dampak Perang Iran
Tingkat persetujuan publik terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump merosot hingga mencapai 33 persen dalam jajak pendapat terbaru Reuters/Ipsos yang dirilis 18 Agustus 2026. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran warga atas konflik militer yang memanjang dengan Iran serta tingginya lonjakan harga bensin di dalam negeri.
Hasil survei Reuters/Ipsos yang ditutup pada 17 Agustus 2026 mencatat sebanyak 64 persen responden tidak menyetujui kinerja Trump di Gedung Putih. Angka persetujuan 33 persen ini turun dari 35 persen pada awal bulan dan menyamai rekor terendah masa jabatan pertamanya pada Desember 2017.
Survei lain dari Financial Times dan Focaldata pada 7–10 Agustus 2026 terhadap 1.913 pemilih terdaftar menunjukkan 53 persen pemilih merasa kondisi keuangan mereka memburuk di bawah pemerintahan Trump. Penilaian negatif tersebut mencakup hampir 57 persen pemilih independen dan sekitar seperempat pemilih dari Partai Republik.
Ketegangan militer meningkat setelah Trump memerintahkan serangan terhadap Iran bersama Israel, yang berdampak pada terganggunya seperlima perdagangan minyak global. Tingkat inflasi AS tercatat berada di level 3,4 persen pada Juli 2026 di tengah penurunan upah riil masyarakat.
Sekitar 80 persen warga Amerika yang disurvei Reuters/Ipsos meyakini intervensi militer di Iran akan berlangsung dalam jangka panjang. Hanya 16 persen responden yang memprediksi ketegangan tersebut dapat selesai dalam hitungan minggu, sementara 20 persen pemilih menganggap perang tersebut memberikan manfaat.
Dalam rapat umum politik di Garden City, New York, Trump memberikan penjelasannya mengenai dampaknya terhadap harga bahan bakar minyak nasional.
"Membayar sedikit lebih mahal untuk bensin Anda sepadan dengan biayanya untuk memastikan negara yang sangat jahat tidak dapat memiliki senjata nuklir," kata Trump, Presiden Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah keprihatinan kubu Republik menjelang pemilihan paruh waktu pada 3 November 2026. Data Focaldata mencatat 44 persen responden berencana mendukung Partai Demokrat pada pemilu mendatang, sedangkan 39 persen memilih Partai Republik.
Di sisi lain, juru bicara Gedung Putih memberikan pembelaan resmi atas kebijakan ekonomi dan keamanan yang diterapkan pemerintah.
"Pemerintahan Trump terus menjalankan agenda keterjangkauan yang diusung Presiden dengan menurunkan harga obat, membawa kembali lapangan kerja ke Amerika Serikat, dan memangkas pajak, sekaligus mencatat penurunan bersejarah dalam kejahatan kekerasan secara nasional serta perbatasan yang paling aman dalam sejarah," ujar Kush Desai, Juru Bicarat Gedung Putih.
Mengenai isu imigrasi, keunggulan Partai Republik atas Partai Demokrat tergerus menjadi 40 persen berbanding 38 persen. Jajak pendapat Reuters/Ipsos dilakukan secara daring terhadap 1.166 orang dewasa di AS dengan batas kesalahan sebesar 3 poin persentase.