Purbaya Yudhi Sadewa Bantah Isu Sell Indonesia dari Hedge Fund Asing
Kondisi fundamental ekonomi nasional dinilai tetap kokoh di tengah munculnya sentimen negatif dari pasar modal global. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pandangan negatif pelaku pasar luar negeri mengenai kondisi keuangan domestik bersumber dari ketidakpahaman terhadap fakta lapangan.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Purbaya guna merespons pandangan Kepala Riset K2 Asset Management, George Boubouras, dalam wawancara bersama Bloomberg News Wire. Seperti dikutip dari Bloombergtechnoz, pemerintah menegaskan bahwa situasi keuangan negara saat ini sangat jauh dari bayang-bayang krisis hebat tahun 1998.
Purbaya menekankan bahwa indikator fiskal nasional berada dalam posisi aman dan performa ekonomi terus bergerak positif. Meski demikian, ia tidak menampik adanya sedikit tekanan eksternal yang saat ini memengaruhi pergerakan nilai tukar mata uang.
"Tetapi itu harusnya bisa diperbaiki dengan koordinasi yang baik-baik antara pemerintah, departemen keuangan, dengan bank sentral," terang Purbaya di Tanjung Priok, Sabtu (6/6/2026).
Ketidaktahuan salah satu penulis artikel mengenai dinamika domestik diduga menjadi pemicu lahirnya analisis tersebut. Menanggapi situasi ini, Kementerian Keuangan langsung mengambil langkah taktis dengan mempercepat publikasi laporan berkala APBNKita guna menyajikan transparansi data pertahanan ekonomi kepada para pelaku pasar.
"Jadi teman-temans investor tolong lihat lebih detail, pahami kondisi ekonomi kita seperti apa. saya bisa katakan sekarang adalah fiskal bagus, ekonomi bagus, kepemimpinan Bapak Presiden masih cukup kuat untuk memastikan semua berjalan sesuai dengan strategi pembangunan Bapak Presiden," terangnya.
Sebelumnya, George Boubouras mengungkapkan bahwa strategi dagang utama institusinya untuk kawasan Asia adalah melepas seluruh aset di tanah air. Lembaga pengelola dana investasi dengan total aset sekitar US$3,4 miliar tersebut dilaporkan telah menarik seluruh modalnya sejak tahun 2024 setelah aktif selama puluhan tahun.
"Saya sama sekali tidak memiliki eksposur terhadap Indonesia," ungkap George Boubouras. " Saya tidak akan memberikan mereka kesempatan."
Berdasarkan data resmi APBNKita, realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara hingga Mei 2026 mencatatkan defisit sebesar Rp180,4 triliun, atau setara dengan 0,7% dari Produk Domestik Bruto. Angka tersebut menunjukkan lonjakan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang tercatat di posisi Rp20,9 triliun atau 0,09% dari PDB.
Walaupun mengalami kenaikan, jumlah defisit berjalan ini dipastikan masih berada jauh di bawah batas atas target tahunan 2026. Pemerintah sendiri menetapkan pagu defisit sepanjang tahun ini sebesar 2,68% dari PDB atau setara dengan minus Rp689,1 triliun.
Di sisi lain, instrumen keseimbangan primer APBN hingga Mei 2026 masih menorehkan hasil positif berupa surplus senilai Rp58,6 triliun. Catatan surplus ini memang lebih rendah daripada pencapaian lima bulan pertama pada tahun lalu yang mampu menyentuh Rp192,2 triliun.
Munculnya defisit pada paruh pertama tahun ini dipicu oleh realisasi penyerapan belanja negara yang bergerak lebih cepat daripada total penerimaan. Kendati demikian, sektor pendapatan negara tetap menunjukkan tren pertumbuhan yang positif secara tahunan.
"Realisasi pendapatan negara tercatat Rp1.185 triliun sampai Mei 2026, atau tumbuh 19,1% dibanding periode yang sama tahun lalu," kata Purbaya dalam konferensi pers APBN Kinerja dan Fakta, Jumat (5/6/2026).