Puluhan Sekolah di Aceh Masih Gunakan Tenda Darurat Setelah Bencana
Sebanyak 52 sekolah di Provinsi Aceh dilaporkan masih melaksanakan kegiatan belajar mengajar di tenda atau kelas darurat akibat dampak bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi lebih dari enam bulan lalu.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) per Februari 2026, selain puluhan sekolah di tenda, terdapat sekitar 20 sekolah yang terpaksa menumpang sementara di fasilitas sekolah lain. Informasi mengenai kondisi sarana pendidikan pascabencana hidrometeorologi akhir November 2025 ini dilansir dari Detikcom.
"Di Aceh, 3.001 sekolah telah kembali ke sekolah asal, sementara 52 sekolah belajar di tenda/kelas darurat dan 20 sekolah menumpang di sekolah lain sementara," tulis Kemendikdasmen pada Jumat (13/2/2026), dikutip Sabtu (6/6/2026).
Kondisi infrastruktur pendidikan yang belum pulih juga melanda wilayah Kabupaten Aceh Tengah. Berdasarkan laporan pemerintah daerah setempat, terdapat belasan lembaga pendidikan yang tersebar di beberapa wilayah kecamatan yang terpaksa mengandalkan fasilitas darurat.
"Saat ini ada beberapa sekolah masih belajar di tenda darurat, yaitu sekitar 12 sekolah," kata Plt Kadis Pendidikan Aceh Tengah, Salimsyah, dikutip dari Antara.
Salimsyah menjelaskan bahwa kondisi bangunan sekolah di beberapa titik wilayah Aceh Tengah mengalami kerusakan parah hingga tidak dapat difungsikan sama sekali. Pascabencana, area di sekitar sekolah mengalami pelebaran pembatas sungai sehingga menimbulkan risiko keamanan bagi para siswa yang melintas.
Pemerintah daerah kemudian mengambil langkah taktis untuk memindahkan lokasi belajar mengajar guna menghindari jalur sungai yang berbahaya tersebut. Pemanfaatan tenda darurat dan pemindahan sementara dilakukan di wilayah Kecamatan Ketol, Bintang, dan Linge.
"Ada inisiatif pemerintah daerah membangun dua tempat, pertama, sekolah asal; kedua, ada tempat yang bisa dimanfaatkan di tenda. Ada beberapa titik seperti itu, Ketol, Bintang, dan Linge," jelasnya.
Pemerintah daerah setempat mengonfirmasi bahwa pengadaan ruang belajar sementara akan terus diupayakan sebagai solusi jangka pendek. Langkah ini diambil guna memastikan hak pendidikan anak-anak tetap terpenuhi sembari menunggu realisasi pembangunan gedung sekolah yang permanen.
"Kita harapkan dalam waktu dekat bisa dihadirkan ruang belajar darurat, apakah di rumah atau sekolah berdekatan. Yang jelas, ini terus kita usahakan secepat mungkin demi menghadirkan pendidikan yang nyaman untuk anak-anak kita," kata Salimsyah.
Keterbatasan fasilitas akibat bencana juga terjadi di Kabupaten Aceh Barat, di mana kegiatan akademik seperti evaluasi belajar terpaksa dilangsungkan dalam kondisi seadanya. Salah satu sekolah, yakni SDN Alue Lhok di Desa Jambak, Kecamatan Pante Ceureumen, terpantau melaksanakan ujian di bawah tenda darurat pada Jumat (5/6/2026) karena ruangan kelas yang rusak berada dekat dengan bibir sungai.