Perguruan Tinggi Indonesia Belum Memiliki Program Studi Neuroscience

Share

Program studi Neuroscience hingga saat ini belum tersedia di seluruh perguruan tinggi Indonesia, sehingga peminat ilmu ini harus menempuh pendidikan ke luar negeri. Fakta tersebut dilansir dari Detikcom pada hari Selasa, 2 Juni 2026, di Gedung Transmedia, Jakarta.

Ketiadaan program studi khusus tersebut mendorong sejumlah universitas di dalam negeri menyiasatinya dengan membuka pusat riset, mata kuliah, atau peminatan khusus. Keberadaan bidang ini dinilai penting untuk mereplikasi riset global agar sesuai dengan karakteristik masyarakat Indonesia.

Pakar komunikasi neurosains, Trisa Triandesa, mengharapkan adanya pembukaan program studi ini demi mempermudah akses pendidikan. Hal tersebut juga diharapkan mampu memperluas ketersediaan lapangan kerja baru di dalam negeri.

"Semoga Indonesia ke depannya akan ada prodinya juga. Jadi kalau yang mau belajar neuroscience enggak usah jauh-jauh ke luar negeri gitu, kan, ibaratnya. Jadi semoga nanti juga lapangan pekerjaannya bisa dibuka juga gitu," ujar Trisa.

Trisa menilai potensi pengembangan riset bidang ini sangat besar karena keberagaman budaya penduduk Indonesia. Replikasi riset dari luar negeri dibutuhkan untuk menguji kesesuaian hasil dengan karakteristik masyarakat lokal.

"Terutama riset neuroscience yang perlu dikembangkan juga di Indonesia. Karena kan riset itu, maksudnya kita juga perlu mereplikasi riset yang udah ada kan. Tapi kan kita perlu mereplikasi apakah mungkin hasilnya akan sama dengan manusia-manusia Indonesia gitu, kan. Karena kan ada cultural bias juga kan, ada perbedaannya," ujar Trisa.

Beberapa Perguruan Tinggi Negeri (PTN) telah mengintegrasikan ilmu ini ke dalam struktur akademis mereka. Universitas Indonesia (UI) memiliki klaster Neuroscience and Brain Development Research Center di bawah IMERI FKUI, sementara UPN Veteran Jakarta membuka peminatan di bawah prodi S1 Biologi.

Selain itu, Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkenalkan pendekatan ini melalui Fakultas Psikologi, dan Institut Teknologi Bandung (ITB) menyediakan mata kuliah Advanced Neuroscience untuk pascasarjana. Di sektor swasta, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengaplikasikannya pada pendidikan anak usia dini.

Lulusan bidang ini memiliki prospek karier yang bervariasi bergantung pada spesialisasi yang diambil, seperti di rumah sakit untuk clinical neuroscience atau bidang pendidikan untuk educational neuroscience. Namun, lulusan saat ini masih menghadapi tantangan karena dunia industri dalam negeri belum terlalu awam dengan bidang multidisplin ini.

"Balik lagi tergantung cabang neuroscience-nya apa gitu kan. Kalau misalkan clinical neuroscience berarti bisa bekerja di klinis, di setting klinis kayak di rumah sakit contohnya. Atau enggak, kalau misalkan educational neuroscience bisa bekerja di bidang pendidikan gitu," lanjut Trisa.

Pilihan karier lain bagi lulusan adalah jalur komunikasi sains untuk menjembatani pengetahuan ilmiah dengan masyarakat luas. Bagi pelajar yang tertarik, pembelajaran awal dapat diakses secara mandiri melalui penyedia referensi gratis di internet.

"Cuman kalau di Indonesia sendiri karena jurusannya sendiri kan belum ada ya, prodinya belum ada. Jadi mungkin akan agak sedikit sulit karena mungkin employer (pemberi kerja) juga kayak kurang awam ya dengan bidang ini gitu. Tapi ya hal-hal yang bisa dilakukan sebenarnya banyak sih. Kalau aku memilih jalur science communication, kan untuk mengomunikasikan sains ke khalayak umum gitu. Tapi ya banyak sih kemungkinannya," tutur Trisa.

Situs web gratis seperti brainfacts.org direkomendasikan untuk mempelajari anatomi, struktur, dan fungsi sistem saraf. Selain itu, buku literatur populer juga dapat menjadi alternatif media pembelajaran mengenai regulasi emosi dari sudut pandang neurosains.

"Mungkin kalau buat adik-adik yang pengen belajar neuroscience bisa mulai baca-baca dari resource yang gratis, ada banyak banget. Salah satunya brainfacts.org, itu bisa banget buat jadi sumber referensi untuk belajar neuroscience. Karena di situ ada dibahas kayak anatominya seperti apa, strukturnya kayak apa, dan juga fungsinya seperti apa. Jadi untuk memulai bisa belajar dari situ dulu aja," jelas Trisa.

Berdasarkan data US News, universitas papan atas dunia untuk bidang ini didominasi oleh institusi luar negeri. Beberapa di antaranya meliputi Harvard University, Stanford University, Massachusetts Institute of Technology (MIT), University College London, Oxford University, Columbia University, Yale University, hingga Pennsylvania University.

"Oh iya, buku aku juga bisa dong. Judulnya 'Moving Forward, Not Moving On'. Itu membahas soal bagaimana kita meregulasi emosi dan juga isu-isu kesehatan mental, tapi dari perspektif neuroscience," tutur Trisa.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author