Presiden Guatemala Tolak Operasi Militer Amerika Serikat

Share

Presiden Guatemala Bernardo Arevalo menolak kemungkinan operasi militer Amerika Serikat (AS) terhadap kejahatan terorganisir di negaranya. Seperti dilansir dari Detikcom, Arevalo menegaskan bahwa Konstitusi Guatemala tidak mengizinkan pelaksanaan operasi militer gabungan dengan angkatan bersenjata asing.

"(Amerika) Melakukan operasi militer, membawa senjata-senjata… hukum tidak mengizinkannya," kata Arevalo dalam wawancara eksklusif dengan AFP saat melakukan kunjungan ke Panama, Selasa (23/6/2026).

Penegasan ini merespons pernyataan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth kepada CBS News sepekan lalu. Hegseth sempat menyatakan bahwa serangan terarah dapat dikerahkan di Guatemala dan Ekuador guna menargetkan geng kriminal serta perdagangan narkoba.

Meskipun menolak keterlibatan militer langsung, Guatemala tetap menjadi bagian dari aliansi anti-perdagangan narkoba yang dipromosikan oleh Presiden AS Donald Trump.

Arevalo menekankan dalam wawancara dengan AFP tersebut bahwa kerja sama yang disepakati dengan Washington mencakup "pelatihan, dukungan di tingkat operasi taktis untuk perencanaan penggerebekan, dan berbagi intelijen".

Sementara itu, Arevalo menegaskan bahwa tindakan bersenjata terhadap kelompok kriminal tetap menjadi tanggung jawab pasukan keamanan Guatemala.

Saat ini, mafia dan geng perdagangan narkoba seperti Mara Salvatrucha dan Barrio 18 beroperasi di wilayah Guatemala. Kelompok-kelompok tersebut telah ditetapkan sebagai teroris oleh pemerintahan Trump.

Pada awal bulan ini, pihak AS telah melakukan penggerebekan di Venezuela yang menewaskan pemimpin geng kriminal Tren de Aragua, Hector Rusthenford Guerrero Flores, alias Nino Guerrero. Tokoh kriminal ini didakwa atas kasus perdagangan narkoba, pemerasan, dan tindak kejahatan lain di AS sebelum tindakan tersebut dilakukan.

Trump mengunggah video penggerebekan penjahat kelas kakap yang kepalanya dihargai US$ 5 juta tersebut ke media sosial. Rekaman itu menunjukkan pemandangan dari atas sebuah bangunan yang dikelilingi pepohonan sebelum ledakan terjadi dan menghasilkan kepulan asap, meski tidak ada orang yang terlihat jelas.

Selain itu, AS juga melancarkan serangkaian serangan udara terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat perdagangan narkoba di perairan Karibia dan Pasifik. Operasi tersebut sejauh ini dilaporkan telah menewaskan lebih dari 200 orang.

Pihak Washington juga mengakui telah melakukan misi bersama dengan Ekuador di wilayah-wilayah sepanjang perbatasan dengan Kolombia.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author