Prancis dan Jerman Batalkan Proyek Jet Tempur FCAS
Hubungan kerja sama militer antara Prancis dan Jerman mengalami keretakan setelah proyek pembangunan jet tempur generasi terbaru resmi dihentikan. Otoritas di Berlin dan Paris mengonfirmasi keputusan tersebut pada Senin (08/06) akibat kegagalan manufaktur dalam menyelesaikan perselisihan internal, dilansir dari Detikcom.
Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada pekan lalu menyepakati penghentian program Future Combat Air System (FCAS). Perselisihan besar terjadi antara perusahaan Dassault Aviation asal Prancis dan konsorsium Eropa Airbus Defence and Space.
Program bernilai lebih dari €100 miliar atau sekitar 2 triliun Rupiah ini awalnya dirancang pada 2017 untuk mengembangkan pesawat generasi keenam. Jet tempur tersebut diproyeksikan beroperasi sekitar tahun 2040 guna menggantikan armada Eurofighter dan Rafale.
Kegagalan proyek dipicu oleh tuntutan Dassault Aviation untuk memegang kendali yang lebih besar dibanding Airbus. Kedua raksasa industri ini berselisih terkait kendali fase lanjutan proyek, akses hak kekayaan intelektual, hingga perbedaan desain pesawat.
Kanselir Jerman menyatakan bahwa kompetensi industri penerbangan militer sebenarnya berada di negaranya. Ia juga menyerukan agar industri dalam negeri membuktikan kemampuan tersebut melalui kerja sama dengan mitra lain yang potensial.
"Keahlian dalam membuat pesawat militer ada di Jerman. Industri Jerman kini harus membuktikan kemampuannya," ujar Merz, Kanselir Jerman.
Langkah penghentian proyek ini mendapat dukungan dari parlemen Jerman karena dinilai sebagai keputusan yang tepat. Keputusan tersebut diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran militer Eropa terhadap ancaman Rusia dan tekanan kemandirian dari Amerika Serikat.
"Keahlian dalam membuat pesawat militer ada di Jerman. Industri Jerman kini harus membuktikan kemampuannya," ujar Merz, Kanselir Jerman.
Perwakilan dari partai pimpinan Merz di Bundestag menilai pembatalan ini sebagai langkah yang tepat, namun penilaian berbeda datang dari Partai Hijau Jerman. Kegagalan ini dipandang sebagai kemunduran serius bagi kebijakan keamanan kawasan Eropa.
"Ketika industri menghambat kemajuan, maka menjadi tugas para politisi untuk menunjukkan kepemimpinan dan memastikan proyek tetap berjalan," ungkap Brantner, Pemimpin Partai Hijau Jerman.
Prancis dan Jerman kini mengalihkan fokus kerja sama militer mereka pada proyek jaringan Combat Cloud yang mengintegrasikan pesawat, drone, dan sensor. Upaya perancangan ulang kerja sama skala kecil ini dijadwalkan dibahas oleh pejabat pertahanan kedua negara pada pertengahan Juli 2026.