Pramugari Maskapai Dunia Keluhkan Pelecehan dan Kekerasan dari Penumpang
Kru kabin dari berbagai maskapai penerbangan internasional mulai bersuara mengenai perilaku buruk yang mereka terima dari penumpang. Dilansir dari Detik Travel, para pramugari meminta penumpang untuk menjaga sikap dan tidak sembarangan menyentuh fisik petugas selama penerbangan berlangsung.
Maraknya tindakan usil seperti mencolek, mencubit, menepuk, hingga memegangi petugas di dalam pesawat membuat sejumlah kru kabin mengambil tindakan preventif. Beberapa di antaranya memilih mengenakan pin atau atribut bertuliskan "No Touching" demi menjaga keamanan diri saat bekerja di lorong kabin.
"Sangat jarang ada penerbangan yang penumpang colek-colek itu tidak terjadi," kata Michelle Montez, seorang pramugari veteran yang telah bekerja di angkasa selama 20 tahun, dalam Jumpseat Chronicles Podcast dan dikutip dari New York Post, Senin (8/6/2026).
Montez menyampaikan keluhan tersebut bersama dua rekannya, Joshua Boyd dan Darion Foy. Mereka menegaskan bahwa tindakan usil dari penumpang merupakan persoalan serius yang dihadapi oleh hampir seluruh pramugari di dunia, bukan lagi sekadar gangguan ringan.
"Anda bisa bicara dengan pramugari mana pun dari maskapai apa pun. Mereka semua akan setuju bahwa menyentuh fisik adalah sesuatu yang paling kami benci. Kami menghadapinya begitu sering, ini sudah gila," kata Foy.
Foy juga mengungkapkan pengalaman pribadinya yang pernah beberapa kali menjadi korban pencubitan pada bagian bokong oleh penumpang saat sedang bertugas.
"Anda mungkin tidak akan masuk ke restoran lalu mencolek-colek pelayan, kan?" kata Sam Wilkins, seorang pramugari Southwest Airlines sekaligus pemimpin serikat pekerja, dalam wawancaranya dengan Washington Post.
Meskipun pengguna pesawat dilarang sembarangan menekan tombol panggilan di atas kepala, kru kabin kini mengaku lebih memilih tombol tersebut ditekan dibandingkan harus menerima sentuhan fisik langsung pada tubuh mereka.
"Anda tidak perlu menyentuh saya untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan. Saya hanya ingin mendengar suara Anda," kata Boyd.
Persoalan yang dihadapi kru kabin kini tidak lagi terbatas pada sentuhan yang mengganggu. Para pramugari belakangan ini semakin rentan menjadi korban kekerasan fisik saat menjalankan tugas mereka di pesawat.
Peristiwa kekerasan pernah terjadi pada 23 Agustus 2025 dalam penerbangan maskapai Rusia, Pobeda Airlines, dengan rute Novosibirsk menuju Moskow. Seorang penumpang wanita bernama Valeria E. melakukan pemukulan terhadap dua pramugari sekaligus setelah permintaannya terkait ponsel ditolak.
Berdasarkan laporan Aviation Knowledge, Valeria menunjukkan tindakan agresif yang menakuti penumpang lain sesaat setelah pesawat lepas landas. Upaya kru kabin untuk meredakan situasi dengan memberikan surat peringatan tertulis tidak membuahkan hasil karena pelaku justru meremas dan melempar kertas tersebut.
Selain ancaman fisik, pelecehan verbal bernada seksual juga menjadi tantangan berat bagi profesi ini. Pengalaman buruk ini dialami oleh seorang pramugari Ryanair bernama Chloe Harrison pada tahun 2023 dalam penerbangan dari Manchester menuju Barcelona.
Kondisi di dalam kabin menjadi tidak terkendali setelah stok minuman alkohol jenis bir dan vodka habis karena dikonsumsi oleh rombongan suporter Manchester United yang mabuk. Kelompok pria tersebut kemudian meneriakkan yel-yel vulgar yang ditujukan langsung kepada Harrison saat ia melintas di lorong kabin.