Prabowo Subianto Pangkas Ratusan BUMN Tidak Efisien
Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah tegas dengan menginstruksikan pemangkasan jumlah badan usaha milik negara (BUMN) beserta anak usahanya. Kebijakan ini diambil setelah ia menemukan bahwa struktur perusahaan plat merah tersebut ternyata sangat gemuk dan berlapis-lapis. Seperti dikutip dari Detik Finance, jumlah BUMN beserta turunannya saat ini mencapai lebih dari seribu perusahaan, jauh melampaui perkiraan awal presiden.
Prabowo menilai struktur yang berjenjang dari anak, cucu, hingga cicit perusahaan tersebut berpotensi menjadi modus untuk menyembunyikan keuangan negara.
Langkah efisiensi ini menyasar perusahaan-perusahaan yang dinilai tidak produktif dan terus mengalami kerugian. Hingga saat ini, lembaga Danantara dilaporkan telah menutup ratusan entitas BUMN yang dinilai membebani anggaran.
Pemerintah menargetkan penutupan gelombang pertama akan selesai pada akhir Juli, sebelum melanjutkan restrukturisasi besar-besaran hingga akhir tahun 2026. Melalui pengurangan jumlah perusahaan ini, negara diklaim berhasil mengamankan anggaran hingga puluhan triliun rupiah yang sebelumnya habis untuk biaya operasional.
Dana penghematan tersebut utamanya berasal dari pemangkasan alokasi upah untuk jajaran manajemen puncak di perusahaan-perusahaan yang merugi. "Perkiraan saya dari dulu BUMN kita ya 300 maksimal 400. Begitu saya dilantik jadi presiden baru saya diberitahu BUMN kita 1.077.
Itu pun jangan-jangan ada lagi anak perusahaan, ada lagi cucu perusahaan, ada lagi cicit perusahaan. Itu adalah cara mereka untuk sembunyi, sembunyiin uang negara, sembunyiin uang rakyat," ujar Prabowo dalam pidatonya yang dipantau secara daring melalui YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (10/6/2026). "Desember 31 2026, kita akan tutup jumlahnya 800 BUMN yang tidak efisien, yang tidak pernah untung, yang merugi terus kita tutup," kata Prabowo.
"Dari gaji direksi saja sampai sekarang, overhead dan gaji kita sudah bisa menghemat mendekati Rp 70 triliun. Rp 70 triliun. sudah kita hemat," pungkas Prabowo.