Presiden Prabowo Subianto Dorong Nasionalisme Ekonomi di Munas HIPMI
Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya penguatan nasionalisme sebagai fondasi utama pembangunan ekonomi nasional di hadapan para pengusaha muda. Penegasan tersebut disampaikan saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Bandar Lampung, Lampung, pada Rabu (10/6/2026).
Langkah penguatan ini dinilai krusial di tengah ancaman krisis pangan global yang sedang melanda berbagai negara. Kepala Negara menyampaikan bahwa Indonesia saat ini patut bersyukur karena telah berhasil mencapai status swasembada pangan.
"Kita bersyukur kekuatan kita besar, akan ada tantangan kita sekarang sudah swasembada pangan. Sudah swasembada pangan, jangan kau anggap pangan itu tidak penting," kata Prabowo Subianto dalam laporan news.detik.com.
Menurut Presiden, ketahanan pangan merupakan pilar krusial bagi keberlangsungan sebuah negara. Ia menambahkan bahwa kepanikan kini melanda sejumlah negara yang kesulitan memenuhi kebutuhan konsumsi warganya.
"Tanpa pangan tidak ada Republik mana pun di dunia ini, tidak ada negara tanpa pangan. Banyak negara sekarang dalam keadaan panik, mereka sulit cari makan. PBB sudah warning tahun ini akan ada kelaparan besar-besaran, kita alhamdulillah kuat," lanjut Prabowo Subianto.
Selain sektor pangan, pemerintah juga menargetkan kemandirian penuh di sektor energi dalam beberapa tahun ke depan. Hilirisasi industri komoditas nasional terus dipacu demi menciptakan nilai tambah yang signifikan di dalam negeri.
"Kita sedang bekerja keras hitungan kita tiga tahun lagi kita bener-bener sangat kuat di bidang energi saudara-saudara sekalian," ujarnya.
Presiden melihat program industrialisasi ini sebagai momentum besar bagi para pengusaha domestik untuk mengambil peran utama. Pemerintah berkomitmen agar pasar dalam negeri tidak sekadar dikuasai oleh produk ekspansi asing.
"Ini kesempatan untuk pengusaha-pengusaha muda bangkit karena kita tidak mau hanya jadi pasarnya bangsa lain. Kita mau pasar Indonesia harus dinikmati oleh putra-putri Indonesia," ujarnya.
Dalam pidato yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Prabowo Subianto menjabarkan bukti sejarah mengenai kesuksesan ekonomi global. Berdasarkan pengamatannya, sejumlah negara adidaya mampu bangkit berkat penerapan asas kebangsaan yang kuat.
"Jadi saudara-saudara, Jepang maju, Amerika maju, Eropa Barat maju, Tiongkok bangkit sekarang karena nasionalisme," ujar Prabowo Subianto seperti dilansir nasional.kompas.com.
Semangat kebangsaan ini dinilai melekat erat pada sejarah pendirian organisasi HIPMI sendiri. Oleh sebab itu, para pengusaha muda diajak untuk terus memelihara nilai-nilai tersebut demi mendorong pertumbuhan ekonomi modern.
"Lahirnya HIPMI dengan wawasan nasionalisme sebagaimana diutarakan, adalah sangat penting. Tidak ada kemajuan suatu bangsa tanpa nasionalisme," ujar Prabowo Subianto.
Guna memperkuat argumentasinya, Kepala Negara mengutip literatur ilmiah karya sosiolog Liah Greenfeld yang berjudul The Spirit of Capitalism: Nationalism and Economic Growth (2001). Buku ini membedah sifat dasar pertumbuhan ekonomi yang memerlukan stimulus berkelanjutan.
"Jadi, karakteristik dari ekonomi modern, is not self-sustained. Tidak maju, tidak berkembang dengan sendirinya. Pertumbuhan distimulasi dan dipertahankan oleh nasionalisme,” kata Prabowo Subianto.
Di hadapan para peserta munas, Presiden meminta seluruh pihak mengevaluasi implementasi asas kebangsaan dalam struktur perekonomian domestik saat ini. Ia menekankan pentingnya kejujuran dalam melihat kondisi riil di lapangan.
"Marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri. Apa benar sistem ekonomi kita sudah berdasarkan nasionalisme? Marilah kita lihat dengan mata dan hati yang terbuka," ujar Prabowo Subianto.
Berdasarkan laporan jateng.antaranews.com yang memantau siaran daring dari Jakarta, Presiden turut meminta jajaran pengusaha muda untuk mengabaikan segala bentuk kritik destruktif. Kebutuhan utama bangsa saat ini adalah kerja nyata yang fokus dan militan.
"Pasar Indonesia harus dinikmati oleh putra-putri Indonesia," ujar Prabowo Subianto.
Kepala Negara mengingatkan agar seluruh elemen pengusaha tetap menjaga persatuan dan tidak terpengaruh oleh upaya adu domba. Menurutnya, pihak-pihak yang kerap menghasut tidak sedang bekerja untuk kepentingan kemajuan rakyat Indonesia.
"Kita harus bersatu, gotong royong, kalau ada yang menghasut, memecah belah, yakinlah dia bekerja untuk orang lain, bukan untuk orang Indonesia, yang nyinyir," kata Presiden Prabowo Subianto.
Presiden mengibaratkan perjuangan membangun ekonomi ini seperti masa perebutan kemerdekaan terdahulu yang penuh tantangan dan cibiran. Namun, Indonesia dipastikan akan tetap melangkah maju menuju kejayaan ekonomi tanpa terganggu hambatan tersebut.
"We will march on. Kita akan menuju kemenangan dan kehebatan saudara-saudara sekalian. Dulu waktu pejuang-pejuang kita, waktu mereka mengatakan merdeka banyak juga yang nyinyir," katanya.
Sebagai penutup ulasannya mengenai teori kapitalisme, Presiden kembali membacakan baris akhir dari kutipan pemikiran Liah Greenfeld. Konsep tersebut menegaskan kembali bahwa dinamika kemajuan ekonomi di berbagai negara maju selalu ditopang oleh semangat kebangsaan.
"Yang saya ambil kalimat terakhir, ‘The sustained growth characteristic of modern economy’ karakteristik tidak maju, tidak berkembang dengan sendirinya. Pembangunan, pertumbuhan distimulasi dan dipertahankan oleh nasionalisme," ujar Presiden.