Prabowo Subianto Pindahkan Lokasi Penutupan Munas NU ke Bangkalan

Share

Presiden Prabowo Subianto dipastikan akan menutup kegiatan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2026 di kawasan Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil Bangkalan, Madura, pada Selasa (23/6/2026).

Keputusan tersebut memindahkan lokasi penutupan yang semula dijadwalkan di Kediri, Jawa Timur, sebagaimana dilansir dari Detik Travel. Sebelum acara puncak dimulai pada sore hari, rangkaian penutupan akan diawali dengan ziarah ke makam pendiri NU dan istigasah bersama.

Pihak panitia menyatakan bahwa pemilihan lokasi di Bangkalan ini didasarkan pada pertimbangan teknis serta nilai historis yang kuat bagi organisasi keagamaan tersebut. Kawasan ini merupakan tempat peristirahatan terakhir KH Muhammad Kholil Bangkalan yang menjadi guru utama para pendiri organisasi.

"Insyaallah tadi malam sekitar pukul 12 sudah mendapatkan kepastian dan Insyaallah Pak Presiden berkenan rawuh (hadir), berkenan hadir," kata Sekretaris Steering Committee Munas-Konbes NU M Nuh, Selasa (23/6/2026).

Perubahan lokasi ini kemudian dikaitkan oleh sebagian masyarakat dengan mitos yang berkembang di Kediri mengenai pelengseran presiden. Berdasarkan kepercayaan setempat, terdapat mitos dari Kutukan Kartikea Singha yang menyebut bahwa kepala negara yang masuk ke wilayah Kota Kediri akan jatuh dari jabatannya.

Catatan sejarah mencatat bahwa mantan Sekretaris Kabinet Pramono Anung pernah melarang Presiden Joko Widodo berkunjung ke Kediri demi menghindari nasib serupa dengan Presiden keempat RI, KH Abdurrahman Wahid.

"Ngapunten kiai, saya termasuk orang yang melarang Pak Presiden untuk berkunjung di Kediri," ucap Pramono di hadapan para kiai sepuh pengasuh Ponpes Hidsyatul Mubtadien Lirboyo Kediri, Sabtu (15/2/2020) silam.

Pramono mengingatkan kembali peristiwa politik masa lalu yang terjadi setelah kunjungan presiden ke wilayah tersebut. Menurutnya, wilayah Kediri memiliki atmosfer yang wingit bagi seorang pemimpin negara.

"Istri saya masih ingat karena percaya atau tidak percaya, Gus Dur setelah berkunjung ke Lirboyo tidak begitu lama gonjang-ganjing di Jakarta. Kalau Pak Wapres tidak apa-apa. Namun kalau untuk menteri, nanti kalau ada acara-acara Musyawarah Himpunan Santri Lirboyo keempat nanti tinggal memilih siapa menteri yang ingin didatangkan. Tinggal hubungi saya," imbuh Pramono.

Di sisi lain, tokoh agama setempat menilai ada cara religius untuk menangkal mitos tersebut jika seorang presiden tetap harus berkunjung. Langkah penangkal yang disarankan adalah dengan melakukan ziarah ke makam tokoh penyebar agama Islam terdahulu di kota tersebut.

"Jadi saat berkunjung ke Kediri, juga berziarah dan berdoa di Makam Syekh Al Wasil Syamsudin, Mbah Wasil Setono Gedong, Kota Kediri. Kenapa demikian, karena Mbah Wasil merupakan penyebar agama Islam jauh sebelum para wali," jelas KH Kafabihi Mahrus.

Pendekatan berbeda juga disampaikan oleh budayawan lokal mengenai taktik rute perjalanan yang pernah diterapkan oleh presiden terdahulu. Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tercatat sempat mengunjungi Kediri pada tahun 2007 dan 2014 tanpa masuk ke area pusat kota.

"Kenapa Pak SBY waktu itu melipir, di pinggir-pinggir saja, nggak berani masuk kota. Dan baru masuk kota setelah lengser," jelas pria yang juga Dosen Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Tribakti Lirboyo Kediri Imam Mubarok.

Imam menambahkan bahwa keyakinan akan kutukan tersebut seharusnya tidak menjadi alasan untuk menghindari kota Kediri. Ia menekankan landasan teologis bahwa tidak ada hal yang bersifat abadi di dunia ini.

"Tidak ada kutukan yang abadi. Sebab di muka bumi ini tidak ada yang abadi kecuali Allah. Surat Al Qashash Ayat 88," lanjut Gus Barok.

Ia juga menegaskan situasi keamanan wilayahnya saat ini yang tetap kondusif bagi semua pihak. Pihaknya berharap persepsi mistis ini tidak memisahkan hubungan antara kepala negara dan masyarakat Kediri.

"Jangan sampai wingit dan angkernya Kediri menjadi alat atau alasan orang tak bertanggung jawab Presiden tidak akan berkunjung, karena masyarakat Kediri juga bagian dari Indonesia dan kami yang hidup di Kediri baik-baik saja," jelasnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author