Populasi Gajah di Bengkulu Menyusut Hingga Tersisa 25 Ekor
Populasi gajah Sumatera di Provinsi Bengkulu diperkirakan kini hanya tersisa 25 hingga 30 ekor akibat penyusutan tutupan hutan dan alih fungsi lahan. Informasi tersebut disampaikan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu pada Selasa (18/8/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Jumlah tersebut sudah mencakup keberadaan gajah binaan serta kawanan gajah liar yang terdeteksi di wilayah tersebut. Pihak otoritas mengonfirmasi bahwa ancaman terbesar terhadap kelangsungan hidup satwa ini berasal dari berkurangnya habitat alami serta pembukaan perkebunan kelapa sawit.
Kepala BKSDA Bengkulu Agung Nugroho mengonfirmasi keterbatasan jumlah populasi satwa dilindungi tersebut di wilayahnya.
"Kalau gajah liar yang terekam punya empat anakan dan sisanya gajah dewasa. Jadi secara populasi masih bereproduksi," kata Agung Nugroho, Kepala BKSDA Bengkulu.
Ia menuturkan bahwa perubahan fungsi kawasan hutan menjadi areal perkebunan kelapa sawit dapat memperburuk kelestarian populasi gajah di masa depan.
"Jika terus terjadi maka populasi gajah ini terancam dan ini yang harus kita cegah," ujar Agung Nugroho, Kepala BKSDA Bengkulu.
Kondisi kritis juga dikonfirmasi oleh Organisasi Non-Pemerintah Kanopi Hijau Indonesia yang menyoroti ancaman nyata di Bentang Alam Seblat, Kabupaten Bengkulu Utara. Perambahan hutan dan konflik dengan warga sekitar mempercepat penyusutan jumlah satwa tersebut.
"Populasi gajah yang tersisa di kawasan ini kurang dari 50 ekor. Fakta ini menjadi indikator kuat bahwa kawanan gajah Sumatera di sini sedang berada pada titik kritis menuju kepunahan lokal," kata Ali Akbar, Ketua Kanopi Hijau Indonesia.
Berdasarkan data Koalisi Bentang Seblat, alih fungsi lahan telah mengubah sekitar 30.017 hektare dari total 80.978 hektare kawasan inti Bentang Seblat menjadi perkebunan sawit. Pembabatan kayu secara ilegal dan terputusnya jalur jelajah gajah turut memperparah ancaman keberlangsungan hidup mereka.
"Habitat gajah di Bentang Alam Seblat kini dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Habitat yang terfragmentasi dan pembunuhan gajah dengan cara diracun menjadi faktor utama penurunan populasi," ujar Ali Akbar, Ketua Kanopi Hijau Indonesia.